Minggu, 17 Februari 2013

Netbook baruuuu... :p




Hahahaha,

Yaaa....yaa... Miss di sini bersama netbook barunya :p

Nggak pamer kok, dan nggak berniat pamer. Lagian apa yang mau dipamerin, hehe, ini cuma netbook biasa aja. Dan sebenarnya kalau nggak berkepentingan juga aku malas beli netbook.

Aku orangnya gaptek, jadi malas juga beli-beli gadget nggak penting, kecuali aku benar-benar butuh.

Seperti yang aku bilang kan, laptopku rusaakkk..

Aku pikir LCDnya yang rusak,..

Dan berhubung aku butuh laptop dalam minggu ini, karena ada seuah proyek yang mesti aku kerjakan dan DL-nya adalah minggu depan, aku kudu ngebenerin laptop segera!

Akhirnya bersama temanku, dan adiknya, kami pergi ke tempat service tadi siang, sekitar jam sebelasan siang.

And...you know what, saat kami sudah memeriksakan laptop ke tukang service???

Ternyata yang bermasalah bukan LCDnya...tapi laptopnya!!!!!!

*:@$))!!&*#...

Katanya bagian laptopnya yang entah apa namanya, aku nggak tahu, kudu diganti dan diperiksa lebih lanjut.

So, my laptop baby sayang, harus diservice, dan katanya akan memakan waktu seminggu!!

Sedangkan aku, butuh laptop minggu ini, dan deadlinenya minggu depannn...

Bagaimana bisa laptop baru sembuh minggu depan, dan deadline juga minggu depan -__-

Oke pasti pada bilang, bisa pinjam laptop teman kan? Atau mengetik di tempat pengetikkan?

Tapi, membayangkan ribet dan riweuhnya, itu bikin aku malas. Aku nggak bisa mengetik di tempat umum, kudu di kamar seorang diri. Dan aku malas pinjam-pinjam barang orang dalam jangka waktu lama, terlebih aku tak tahu kapan saja aku ingin menggunakan laptop (karena mood mengetikku itu selalu datang suka-suka). Jadi, memang aku senangnya adalah pakai laptop sendiri agar bisa suka-suka dan bebas mengetik kapan saja dan dimana saja.

Makanya, setelah meninggalkan laptop kesayanganku di tempat service, aku langsung pergi beli netbook ini. Kenpa netbook? Karena ini yang paling memungkinkan disaat kepepet seperti ini. Lagipula aku hanya butuh untuk mengetik, dan nanti juga laptopku setelah keluar dari service akan membaik, jadi ya sudah...aku beli netbook ini saja.


Taraaa...~


Ini dia Netbook yang akan menemaniku selama laptopku di rawat di UGD :p

Kenalan dulu dong, say hello padanya..

hehe


Gambarnya gelap yak??

Maklum..hape abal-abal hihi

Dan juga sekarang sudah sore, jam 4, ditambah mendung karena hujan, jadinya ya gitu, tak ada sinar pencerahan hehehe

Okay...

Aku mau utak-atik ini barang dulu.

Kalau pepatah buat manusia kan, 'Tak kenal, maka tak sayang..'

Nah, kalau buat barang seperti ini, lebih tepatnya, 'Tak diutak-atik, maka tak sayang..' wkwkwk






Hahahaha,

Yaaa....yaa... Miss di sini bersama netbook barunya :p

Nggak pamer kok, dan nggak berniat pamer. Lagian apa yang mau dipamerin, hehe, ini cuma netbook biasa aja. Dan sebenarnya kalau nggak berkepentingan juga aku malas beli netbook.

Aku orangnya gaptek, jadi malas juga beli-beli gadget nggak penting, kecuali aku benar-benar butuh.

Seperti yang aku bilang kan, laptopku rusaakkk..

Aku pikir LCDnya yang rusak,..

Dan berhubung aku butuh laptop dalam minggu ini, karena ada seuah proyek yang mesti aku kerjakan dan DL-nya adalah minggu depan, aku kudu ngebenerin laptop segera!

Akhirnya bersama temanku, dan adiknya, kami pergi ke tempat service tadi siang, sekitar jam sebelasan siang.

And...you know what, saat kami sudah memeriksakan laptop ke tukang service???

Ternyata yang bermasalah bukan LCDnya...tapi laptopnya!!!!!!

*:@$))!!&*#...

Katanya bagian laptopnya yang entah apa namanya, aku nggak tahu, kudu diganti dan diperiksa lebih lanjut.

So, my laptop baby sayang, harus diservice, dan katanya akan memakan waktu seminggu!!

Sedangkan aku, butuh laptop minggu ini, dan deadlinenya minggu depannn...

Bagaimana bisa laptop baru sembuh minggu depan, dan deadline juga minggu depan -__-

Oke pasti pada bilang, bisa pinjam laptop teman kan? Atau mengetik di tempat pengetikkan?

Tapi, membayangkan ribet dan riweuhnya, itu bikin aku malas. Aku nggak bisa mengetik di tempat umum, kudu di kamar seorang diri. Dan aku malas pinjam-pinjam barang orang dalam jangka waktu lama, terlebih aku tak tahu kapan saja aku ingin menggunakan laptop (karena mood mengetikku itu selalu datang suka-suka). Jadi, memang aku senangnya adalah pakai laptop sendiri agar bisa suka-suka dan bebas mengetik kapan saja dan dimana saja.

Makanya, setelah meninggalkan laptop kesayanganku di tempat service, aku langsung pergi beli netbook ini. Kenpa netbook? Karena ini yang paling memungkinkan disaat kepepet seperti ini. Lagipula aku hanya butuh untuk mengetik, dan nanti juga laptopku setelah keluar dari service akan membaik, jadi ya sudah...aku beli netbook ini saja.


Taraaa...~


Ini dia Netbook yang akan menemaniku selama laptopku di rawat di UGD :p

Kenalan dulu dong, say hello padanya..

hehe


Gambarnya gelap yak??

Maklum..hape abal-abal hihi

Dan juga sekarang sudah sore, jam 4, ditambah mendung karena hujan, jadinya ya gitu, tak ada sinar pencerahan hehehe

Okay...

Aku mau utak-atik ini barang dulu.

Kalau pepatah buat manusia kan, 'Tak kenal, maka tak sayang..'

Nah, kalau buat barang seperti ini, lebih tepatnya, 'Tak diutak-atik, maka tak sayang..' wkwkwk



Sabtu, 16 Februari 2013

"Tumben.."

..adalah kalimat yang sepertinya belakangan sering kudengar di setiap jejaringan social milikku. Facebook dan twitter, terutama.

Saat aku membalas wall dari orang, dibilang, "tumben balas."

Saat aku mengisi wall beberapa orang, dibilang, "tumben nyapa."

Dan saat aku mereply beberapa update-an twit teman yang berseliweran di timeline, semua pada bilang dengan kata-kata yang lagi sama, "tumben nyapa."

Aku menelepon dan meng SMS beberapa nomor, juga disahut dengan "tumben nelpon" dan "tumben SMS"..

Tumben...tumben..tumben..

Memangnya segitunya kah aku selama ini tidak memperdulikan mereka? :|

Apakah aku terkesan sangat cuek dan sombong?

Entah... aku tak tahu apa yang mereka pikirkan tentangku. Tapi, aku akuin, aku sangat jarang berinteraksi di dunia maya, atau pun via telepon or chatting.

Pertama Facebook, aku akuin jarang buka facebook, dan sekali buka juga hanya sekadar lihat-lihat status teman tanpa niat memberikan/meninggalkan komentar di wall mereka.

Kedua, twitter, aku memang sering buka twitter sekadar untuk update status. Tapi, hanya itu.

Aku buka twitter hanya ngetwit tanpa melihat TL terkadang, itu kenapa aku jarang berinteraksi pada orang-orang yang berseliweran di TLku.

Tapi kalau waktuku senggang, aku tentu akan melihat ke TL dan mereply nya. Tapi yang aku terima malah jawaban 'tumben nyapa'.. :'D

Sedih saja bacanya dan jadi merasa bersalah. Mungkin aku dianggap sombong dan selama ini tak peduli dengan teman, jadi sekali nyapa semua pada bilang 'tumben'..

Aku orangnya memang dari dulu jarang berinteraksi di dunia maya, apalagi kalau tak ada topik (dan aku bukan lah orang yang pintar memulai topik atau pun sekadar joke untuk melucu). Aku orangnya kadang agak kaku. Jadi terkadang pun aku ingin nyapa tapi tak tahu mau ngomong apa. Kadang aku sekadar bilang 'i miss u' karena jujur aku benar-benar kangen, namun setelahnya aku bingung mau bicara apa, kecuali orang yang kusapa itu langsung bergurau/memulai topik. Tapi kalau ia juga hanya diam atau cuma 'haha' dan 'hehe' ya aku bingung mau ngomong apalagi.


Mungkin bagi beberapa orang, dengan sikapku yang begini bisa nangkap lain, atau malah menganggapnya annoying. Tapi...jujur saja, aku tak pernah bermaksud cuek, apalagi sombong. Lagipula apa sih yang mau aku sombongkan dari diriku? :'D

Aku hanya bukan pembicara yang baik, dan... juga kadang kalau sibuk aku cenderung malas ngobrol. Bukan karena apa.. aku nggak bisa konsentrasi pada dua hal, sulit membagi hehe. Jadi sekalinya aku sedang nonton TV misalnya, aku bakal nggak balas mention orang. Karena aku sedang fokus pada TV. Atau saat mengerjakan tugas, aku juga akan mengabaikan hal-hal lain. Masalahnya, aku tak bisa fokus pada dua hal berbeda dalam waktu bersamaan. Jadi, ya gitu...hehehehe


Namun... aku selalu memperhatikan teman-teman twitter dan facebook ku walau aku tak menampakkan diri. Aku memperhatikan gerak-gerik kalian dari jauh. :)
..adalah kalimat yang sepertinya belakangan sering kudengar di setiap jejaringan social milikku. Facebook dan twitter, terutama.

Saat aku membalas wall dari orang, dibilang, "tumben balas."

Saat aku mengisi wall beberapa orang, dibilang, "tumben nyapa."

Dan saat aku mereply beberapa update-an twit teman yang berseliweran di timeline, semua pada bilang dengan kata-kata yang lagi sama, "tumben nyapa."

Aku menelepon dan meng SMS beberapa nomor, juga disahut dengan "tumben nelpon" dan "tumben SMS"..

Tumben...tumben..tumben..

Memangnya segitunya kah aku selama ini tidak memperdulikan mereka? :|

Apakah aku terkesan sangat cuek dan sombong?

Entah... aku tak tahu apa yang mereka pikirkan tentangku. Tapi, aku akuin, aku sangat jarang berinteraksi di dunia maya, atau pun via telepon or chatting.

Pertama Facebook, aku akuin jarang buka facebook, dan sekali buka juga hanya sekadar lihat-lihat status teman tanpa niat memberikan/meninggalkan komentar di wall mereka.

Kedua, twitter, aku memang sering buka twitter sekadar untuk update status. Tapi, hanya itu.

Aku buka twitter hanya ngetwit tanpa melihat TL terkadang, itu kenapa aku jarang berinteraksi pada orang-orang yang berseliweran di TLku.

Tapi kalau waktuku senggang, aku tentu akan melihat ke TL dan mereply nya. Tapi yang aku terima malah jawaban 'tumben nyapa'.. :'D

Sedih saja bacanya dan jadi merasa bersalah. Mungkin aku dianggap sombong dan selama ini tak peduli dengan teman, jadi sekali nyapa semua pada bilang 'tumben'..

Aku orangnya memang dari dulu jarang berinteraksi di dunia maya, apalagi kalau tak ada topik (dan aku bukan lah orang yang pintar memulai topik atau pun sekadar joke untuk melucu). Aku orangnya kadang agak kaku. Jadi terkadang pun aku ingin nyapa tapi tak tahu mau ngomong apa. Kadang aku sekadar bilang 'i miss u' karena jujur aku benar-benar kangen, namun setelahnya aku bingung mau bicara apa, kecuali orang yang kusapa itu langsung bergurau/memulai topik. Tapi kalau ia juga hanya diam atau cuma 'haha' dan 'hehe' ya aku bingung mau ngomong apalagi.


Mungkin bagi beberapa orang, dengan sikapku yang begini bisa nangkap lain, atau malah menganggapnya annoying. Tapi...jujur saja, aku tak pernah bermaksud cuek, apalagi sombong. Lagipula apa sih yang mau aku sombongkan dari diriku? :'D

Aku hanya bukan pembicara yang baik, dan... juga kadang kalau sibuk aku cenderung malas ngobrol. Bukan karena apa.. aku nggak bisa konsentrasi pada dua hal, sulit membagi hehe. Jadi sekalinya aku sedang nonton TV misalnya, aku bakal nggak balas mention orang. Karena aku sedang fokus pada TV. Atau saat mengerjakan tugas, aku juga akan mengabaikan hal-hal lain. Masalahnya, aku tak bisa fokus pada dua hal berbeda dalam waktu bersamaan. Jadi, ya gitu...hehehehe


Namun... aku selalu memperhatikan teman-teman twitter dan facebook ku walau aku tak menampakkan diri. Aku memperhatikan gerak-gerik kalian dari jauh. :)

Aku ingin si klise!


Seakan-akan dunia sudah menjelma menjadi merah jambu. Kiri-kanan-depan-belakang rasanya semua warna jadi terlihat sama. Merah jambu! Well, aku bukannya keberatan, walau aku bukan pencinta warna yang sejujurnya menurutku menggelikan itu. Tapi, aku menghargainya, karena itu semestinya menjadi pertanda. Pertanda untuk laki-laki tidak peka yang duduk di hadapanku ini! Laki-laki yang bahkan mungkin tidak menyadari sama sekali bahwa ada si merah jambu sedang menatapnya dari segala penjuru.

Kuaduk-aduk nasi goreng di hadapanku dengan cukup keras hingga terdengar dentingan piring dan sendok. Untung saja tak menarik perhatian seluruh pengunjung Carefour. Namun, ia tetap asyik dengan PSP di tangannya!

Kualihkan emosi dengan mengutak-atik ponselku. Tak sengaja melihat tanggal di sana, 10 Februari. Grrrr... 4 hari lagi! Dan tak ada tanda ia akan ingat, dan sepertinya nasibku akan sama seperti 3 tahun sebelumnya. Melewatkan hari itu dengan biasa-biasa saja.

Dosa apa, aku bisa punya pacar tidak peka dan tak romantis ini? Aku gadis termalang di dunia!!

"Kenapa? Kok cemberut gitu?" tanyanya, yang akhirnya sadar juga kalau di depannya ada manusia.

"Kamu tau nggak kenapa belakangan ini warna merah jambu bertebaran dimana-mana?" pancingku.

Ia mengernyit, lalu menatap sekitar dan seakan tersadar. "Oh ya? Eh, benar juga. Kenapa ya?"

Oke.. Lupakan!!

Kukunyah ganas sesuap nasi gorengku.

Hari itu, di tahun ini akan kembali berlalu tanpa arti. Tanpa cokelat, tanpa sebuket bunga mawar mugkin, tanpa something special. Something klise memang, but I want it..

Seakan-akan dunia sudah menjelma menjadi merah jambu. Kiri-kanan-depan-belakang rasanya semua warna jadi terlihat sama. Merah jambu! Well, aku bukannya keberatan, walau aku bukan pencinta warna yang sejujurnya menurutku menggelikan itu. Tapi, aku menghargainya, karena itu semestinya menjadi pertanda. Pertanda untuk laki-laki tidak peka yang duduk di hadapanku ini! Laki-laki yang bahkan mungkin tidak menyadari sama sekali bahwa ada si merah jambu sedang menatapnya dari segala penjuru.

Kuaduk-aduk nasi goreng di hadapanku dengan cukup keras hingga terdengar dentingan piring dan sendok. Untung saja tak menarik perhatian seluruh pengunjung Carefour. Namun, ia tetap asyik dengan PSP di tangannya!

Kualihkan emosi dengan mengutak-atik ponselku. Tak sengaja melihat tanggal di sana, 10 Februari. Grrrr... 4 hari lagi! Dan tak ada tanda ia akan ingat, dan sepertinya nasibku akan sama seperti 3 tahun sebelumnya. Melewatkan hari itu dengan biasa-biasa saja.

Dosa apa, aku bisa punya pacar tidak peka dan tak romantis ini? Aku gadis termalang di dunia!!

"Kenapa? Kok cemberut gitu?" tanyanya, yang akhirnya sadar juga kalau di depannya ada manusia.

"Kamu tau nggak kenapa belakangan ini warna merah jambu bertebaran dimana-mana?" pancingku.

Ia mengernyit, lalu menatap sekitar dan seakan tersadar. "Oh ya? Eh, benar juga. Kenapa ya?"

Oke.. Lupakan!!

Kukunyah ganas sesuap nasi gorengku.

Hari itu, di tahun ini akan kembali berlalu tanpa arti. Tanpa cokelat, tanpa sebuket bunga mawar mugkin, tanpa something special. Something klise memang, but I want it..

Sabtu, 09 Februari 2013

'Zona' Menulis..!

Menulis itu menurutku pribadi, juga ada 'zona' dan 'khas'nya masing-masing orang. Sama seperti jenis rambut, kulit, bentuk mata, hidung, pipi, rahang dll, tiap orang berbeda kan?

Contohnya nggak jauh-jauh, deh, blog pribadi saja tiap orang cara selalu punya cara menulis dan penyampaian yg berbeda-beda.

Nggak hanya jenis atau teknik menulisnya saja yg beda, tema yang diangkat pun biasanya beda dan masing-masing blogger punya 'tema khas'nya masing-masing, hahaha

Lihat saja, kebayang tidak kalau Raditya Dika nulis teenlit genre romance, atau Ilana Tan nulis cerita humor? Apa jadinyaaaaa??? *pikirkan sendiri bodoh, itukan pertanyaanmu sendiri* *selftoyor*

Maka itu menurutku menulis itu juga terbagi beberapa 'zone'.

Kadang ini juga yg perlu diperhatikan oleh kita saat hendak mengikuti suatu lomba menulis atau hendak mengirimkan naskah ke penerbit.

Ketika kita nulis, kita harus paham jenis seperti apakah tulisan kita itu? Dan bagaimana gaya dan cara menulis kita?

Lalu, lihat sasaran kita (entah itu si penyelenggara lomba atau penerbit incaran kita). Mereka biasanya senang dengan gaya menulis yang seperti apa dan tentang apa?

Ternyata tidak semuanya sama-sama. Masing-masing punya standar, dan kalau tulisan kita nggak sesuai atau nggak memenuhi standar yg mereka inginkan, jangan kaget kalau ditolak naskahnya atau tidak lolos lomba.

Tapi, jangan langsung DOWN!!

Ingat, ditolak atau tidak menang lomba, biasanya bukan berarti tulisan kalian jelek. Hanya saja tidak memenuhi standar mereka. Coba lagi. Revisi naskahmu (kalau memang perlu) dan kirimkan ke penerbit lain atau ke penyelenggara lomba sejenis yang lain. Siapa tahu naskah kalian lolos kan? :))

Untuk sekadar contoh saja, aku kadang-kadang senang mengikuti lomba nulis. Tapi, sejauh ini masih yang lomba kecil-kecillan dan sekadar dalam bentuk cerpen atau novellet saja. Kalau novel, sama sekali belum pernah coba :D.

Alhamdulillah, beberapa kali aku kadang menang lomba, (walau aku juga bingung kenapa bisa juara, karena tulisanku masih dangkal banget >.<). Namun, keberuntungan menang lomba beberapa kali itu ternyata agak mempengaruhiku secara mental *?*. Saat beberapa waktu lalu aku ikut lomba lagi dari penyelenggara yang berbeda, aku sama sekali tidak juara. Jangankan juara, masuk juara harapan atau karya terbaik pun tidak. Dan bahkan naskahku dianggap sangat standar, biasa, klise, pokoknya jelek banget lah.

Di situ, aku jujur saja down banget. Sempat mogok nulis, langsung lemas, dan mulai mikir dan merasa 'aku ini memang sama sekali tidak bakat nulis kayaknya. sama sekali tidak bakat.'

Selama mogok nulis itu, aku jadi sedih. Entah, mungkin karena kalau ikut lomba aku kadang beruntung selalu dapat juara, sekalinya kalah jadinya begini. Down se down-downnya.

Selama masa perenungan itu lah, aku tidak sengaja membaca postingan si penyelenggara lomba 'yang juaranya tak bisa kuraih itu' hehe. Ia memosting tulisan tentang 'kenapa bisa kalah dalam lombanya'. Banyak sekali penjelasan logis yang ia berikan, yang intinya sih adalah yang 'kalah' itu tak memenuhi standar mereka.

Nah, aku jadi penasaran, seperti apa sih standar mereka? Aku lalu coba membeli buku mereka 'kumpulan cerpen' dari pemenang lomba yang sebelumnya. Aku penasaran, bagaimana bentuk tulisan yang menurut mereka bagus dan layak juara.

Setelah aku baca, ..... waw! Memang karya mereka super bagus. Dan aku pikir mereka memang layak untuk juara :))

Di situ aku langsung minder berat, hehe.

Benar kata jurinya, dibandingkan karya mereka sih, karyaku memang biasaaaaaaaaa bangetttt >.< Jauuuuhhh seperti langit dan bumi. Mulai dari segi ide cerita, gaya tulisan, tutur bahasa dll mereka itu matang banget!

Aku langsung super minder berat setelahnya hehe.

Tapi, jujur saja, gaya tulisan 'mereka' yang juara itu, walau bagus dan keren, tapi itu bukan seleraku. Aku memang suka baca ceritanya, tapi nggak jadi 'favorit' yang akan kubaca lagi di lain waktu. Masalahnya, bukan seleraku.

Jadi, tulisannya tuh seperti tulisan .... tahu nggak dulu kalau di sekolah, ketika SD, SMP, SMA, di perpustakaan ada buku cerita terbitan pustaka gitu yang ukurannya kecil dan tidak terlalu tebal? Nah, seperti itu tulisannya. Sangat baku, tertata rapi, dan menurutku tutur bahasanya 'rada tua' hehe. Bukannya aku bilang jelek, hanya saja bukan selera bacaanku maupun gaya tulisanku.

Jadi, kalau standarnya yang seperti itu, aku kayaknya angkat tangan deh. Bukannya aku mudah menyerah atau apa, tapi yang seperti itu bukan aku banget. Dan kalaupun aku memaksakan diri menulis dengan gaya seperti itu, aku sendiri tak akan nyaman.

Tapi, yah tentu saja aku akan mencoba lagi kalau si penyelenggara ini mengadakan lomba lagi. Hehehe. Tapi, kali ini tidak untuk mengejar gelar juara ataupun hadiah :D, tapi lebih karena tantangan dan ingin coba sesuatu yang baru.

Yang aku dapat setelah ini, jangan langsung down saat terjatuh, dan jangan terlalu UP saat merasa diterbangkan. Bagaimana pun di dunia selalu masih ada langit di atas langit. Selalu akan ada hal baru di luar zona kita. Kalau ingin bertahan untuk tetap di peredaran, keluarlah dari 'zona nyaman' kita, berani hadapi hal baru yang berbeda, pelajari medan asing itu, dan bertempurlah dengan segenap kemampuan kita. Percaya deh, menang atau kalah nantinya kita akan tetap bangga pada diri kita karena telah berani menghadapi medan baru itu tanpa harus menyandang gelar 'gugur sebelum berperang' hehe.


Btw sudah dulu deh, huhu. Capek ngetik di hape dengan layar touchscreen gini. Lambrettt banget T^T. Laptop masih rusak belum diperbaikin. Aaarrghhh...aku stresss hidup tanpa laptop *acak rambut*


>.

Menulis itu menurutku pribadi, juga ada 'zona' dan 'khas'nya masing-masing orang. Sama seperti jenis rambut, kulit, bentuk mata, hidung, pipi, rahang dll, tiap orang berbeda kan?

Contohnya nggak jauh-jauh, deh, blog pribadi saja tiap orang cara selalu punya cara menulis dan penyampaian yg berbeda-beda.

Nggak hanya jenis atau teknik menulisnya saja yg beda, tema yang diangkat pun biasanya beda dan masing-masing blogger punya 'tema khas'nya masing-masing, hahaha

Lihat saja, kebayang tidak kalau Raditya Dika nulis teenlit genre romance, atau Ilana Tan nulis cerita humor? Apa jadinyaaaaa??? *pikirkan sendiri bodoh, itukan pertanyaanmu sendiri* *selftoyor*

Maka itu menurutku menulis itu juga terbagi beberapa 'zone'.

Kadang ini juga yg perlu diperhatikan oleh kita saat hendak mengikuti suatu lomba menulis atau hendak mengirimkan naskah ke penerbit.

Ketika kita nulis, kita harus paham jenis seperti apakah tulisan kita itu? Dan bagaimana gaya dan cara menulis kita?

Lalu, lihat sasaran kita (entah itu si penyelenggara lomba atau penerbit incaran kita). Mereka biasanya senang dengan gaya menulis yang seperti apa dan tentang apa?

Ternyata tidak semuanya sama-sama. Masing-masing punya standar, dan kalau tulisan kita nggak sesuai atau nggak memenuhi standar yg mereka inginkan, jangan kaget kalau ditolak naskahnya atau tidak lolos lomba.

Tapi, jangan langsung DOWN!!

Ingat, ditolak atau tidak menang lomba, biasanya bukan berarti tulisan kalian jelek. Hanya saja tidak memenuhi standar mereka. Coba lagi. Revisi naskahmu (kalau memang perlu) dan kirimkan ke penerbit lain atau ke penyelenggara lomba sejenis yang lain. Siapa tahu naskah kalian lolos kan? :))

Untuk sekadar contoh saja, aku kadang-kadang senang mengikuti lomba nulis. Tapi, sejauh ini masih yang lomba kecil-kecillan dan sekadar dalam bentuk cerpen atau novellet saja. Kalau novel, sama sekali belum pernah coba :D.

Alhamdulillah, beberapa kali aku kadang menang lomba, (walau aku juga bingung kenapa bisa juara, karena tulisanku masih dangkal banget >.<). Namun, keberuntungan menang lomba beberapa kali itu ternyata agak mempengaruhiku secara mental *?*. Saat beberapa waktu lalu aku ikut lomba lagi dari penyelenggara yang berbeda, aku sama sekali tidak juara. Jangankan juara, masuk juara harapan atau karya terbaik pun tidak. Dan bahkan naskahku dianggap sangat standar, biasa, klise, pokoknya jelek banget lah.

Di situ, aku jujur saja down banget. Sempat mogok nulis, langsung lemas, dan mulai mikir dan merasa 'aku ini memang sama sekali tidak bakat nulis kayaknya. sama sekali tidak bakat.'

Selama mogok nulis itu, aku jadi sedih. Entah, mungkin karena kalau ikut lomba aku kadang beruntung selalu dapat juara, sekalinya kalah jadinya begini. Down se down-downnya.

Selama masa perenungan itu lah, aku tidak sengaja membaca postingan si penyelenggara lomba 'yang juaranya tak bisa kuraih itu' hehe. Ia memosting tulisan tentang 'kenapa bisa kalah dalam lombanya'. Banyak sekali penjelasan logis yang ia berikan, yang intinya sih adalah yang 'kalah' itu tak memenuhi standar mereka.

Nah, aku jadi penasaran, seperti apa sih standar mereka? Aku lalu coba membeli buku mereka 'kumpulan cerpen' dari pemenang lomba yang sebelumnya. Aku penasaran, bagaimana bentuk tulisan yang menurut mereka bagus dan layak juara.

Setelah aku baca, ..... waw! Memang karya mereka super bagus. Dan aku pikir mereka memang layak untuk juara :))

Di situ aku langsung minder berat, hehe.

Benar kata jurinya, dibandingkan karya mereka sih, karyaku memang biasaaaaaaaaa bangetttt >.< Jauuuuhhh seperti langit dan bumi. Mulai dari segi ide cerita, gaya tulisan, tutur bahasa dll mereka itu matang banget!

Aku langsung super minder berat setelahnya hehe.

Tapi, jujur saja, gaya tulisan 'mereka' yang juara itu, walau bagus dan keren, tapi itu bukan seleraku. Aku memang suka baca ceritanya, tapi nggak jadi 'favorit' yang akan kubaca lagi di lain waktu. Masalahnya, bukan seleraku.

Jadi, tulisannya tuh seperti tulisan .... tahu nggak dulu kalau di sekolah, ketika SD, SMP, SMA, di perpustakaan ada buku cerita terbitan pustaka gitu yang ukurannya kecil dan tidak terlalu tebal? Nah, seperti itu tulisannya. Sangat baku, tertata rapi, dan menurutku tutur bahasanya 'rada tua' hehe. Bukannya aku bilang jelek, hanya saja bukan selera bacaanku maupun gaya tulisanku.

Jadi, kalau standarnya yang seperti itu, aku kayaknya angkat tangan deh. Bukannya aku mudah menyerah atau apa, tapi yang seperti itu bukan aku banget. Dan kalaupun aku memaksakan diri menulis dengan gaya seperti itu, aku sendiri tak akan nyaman.

Tapi, yah tentu saja aku akan mencoba lagi kalau si penyelenggara ini mengadakan lomba lagi. Hehehe. Tapi, kali ini tidak untuk mengejar gelar juara ataupun hadiah :D, tapi lebih karena tantangan dan ingin coba sesuatu yang baru.

Yang aku dapat setelah ini, jangan langsung down saat terjatuh, dan jangan terlalu UP saat merasa diterbangkan. Bagaimana pun di dunia selalu masih ada langit di atas langit. Selalu akan ada hal baru di luar zona kita. Kalau ingin bertahan untuk tetap di peredaran, keluarlah dari 'zona nyaman' kita, berani hadapi hal baru yang berbeda, pelajari medan asing itu, dan bertempurlah dengan segenap kemampuan kita. Percaya deh, menang atau kalah nantinya kita akan tetap bangga pada diri kita karena telah berani menghadapi medan baru itu tanpa harus menyandang gelar 'gugur sebelum berperang' hehe.


Btw sudah dulu deh, huhu. Capek ngetik di hape dengan layar touchscreen gini. Lambrettt banget T^T. Laptop masih rusak belum diperbaikin. Aaarrghhh...aku stresss hidup tanpa laptop *acak rambut*


>.

Sabtu, 05 Januari 2013

Kita sangat Berbeda..


Aku hanya bisa memandang kagum dan penuh rasa iri saat kedua kaki jenjangnya yang mulus berjalan melewatiku.

Lalu, kupandang kakiku sendiri yang begitu pendek dan gemuk. Dengan jari-jari yang besar, dan bulu-bulu lebat yang menghiasi kulitku.

Betapa Tuhan tak adil.

Itu adalah apa yang selalu ada di benakku kala melihatnya, Anne, putri majikanku.

Terlahir begitu berbeda, itu lah kami. Rambutnya yang panjang, hitam kemilau,  tergerai indah mempesona. Hidungnya tinggi, dan bola matanya sangat memikat. Satu kata untuknya. Sempurna.

Sedangkan aku hanya memiliki hidung yang sangat pesek dan jelek, tak layak dibanggakan. Rahangku begitu besar, tak seperti Anne yang memiliki rahang kecil membuatnya jadi terlihat manis.

"Beb, sudah lama?" tanyanya manja pada seorang laki-laki yang sedari tadi menunggunya di beranda rumah.
Seakan hidupnya belum cukup sempurna, ia juga memiliki seorang kekasih yang sangat tampan.

Hatiku terasa sesak. Aku tak bisa mungkir, telah jatuh cinta pada kekasih majikanku sendiri sejak pandangan pertama. Kenapa Anne memiliki semua yang tak bisa kumiliki?


"Ivy," Anne menegurku prihatin, sadar aku sedang memperhatikannya. Ia mendekat dan meraihku ke dalam pelukan. Kenapa? Apa ia tahu aku sedang patah hati karenanya?

"Ivy kok diam saja dari tadi? Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyanya cemas. "Kamu lapar? Sebentar ya." Ia meraih sebuah pisang yang ada di dekat sebuah kandang bertuliskan 'Monkey's Home', dan memberikannya padaku.

Sangat berbedanya kami.

Aku hanya bisa memandang kagum dan penuh rasa iri saat kedua kaki jenjangnya yang mulus berjalan melewatiku.

Lalu, kupandang kakiku sendiri yang begitu pendek dan gemuk. Dengan jari-jari yang besar, dan bulu-bulu lebat yang menghiasi kulitku.

Betapa Tuhan tak adil.

Itu adalah apa yang selalu ada di benakku kala melihatnya, Anne, putri majikanku.

Terlahir begitu berbeda, itu lah kami. Rambutnya yang panjang, hitam kemilau,  tergerai indah mempesona. Hidungnya tinggi, dan bola matanya sangat memikat. Satu kata untuknya. Sempurna.

Sedangkan aku hanya memiliki hidung yang sangat pesek dan jelek, tak layak dibanggakan. Rahangku begitu besar, tak seperti Anne yang memiliki rahang kecil membuatnya jadi terlihat manis.

"Beb, sudah lama?" tanyanya manja pada seorang laki-laki yang sedari tadi menunggunya di beranda rumah.
Seakan hidupnya belum cukup sempurna, ia juga memiliki seorang kekasih yang sangat tampan.

Hatiku terasa sesak. Aku tak bisa mungkir, telah jatuh cinta pada kekasih majikanku sendiri sejak pandangan pertama. Kenapa Anne memiliki semua yang tak bisa kumiliki?


"Ivy," Anne menegurku prihatin, sadar aku sedang memperhatikannya. Ia mendekat dan meraihku ke dalam pelukan. Kenapa? Apa ia tahu aku sedang patah hati karenanya?

"Ivy kok diam saja dari tadi? Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyanya cemas. "Kamu lapar? Sebentar ya." Ia meraih sebuah pisang yang ada di dekat sebuah kandang bertuliskan 'Monkey's Home', dan memberikannya padaku.

Sangat berbedanya kami.

Currently reading -> Novel "Zero Class" :D

Lagi baca Novel ”Zero Class”nya Pricillia A.W nih

Ternyata benar  apa yang orang-orang bilang, novel keduanya ini jauuuuhhh lebih baik dari novel perdananya, hehe. Aku pun mengakui itu.

Aku cukup menikmati novel ini, walau sempat bingung juga karena terlalu banyak ‘adegan-adegan’ tambahan yang sebenarnya nggak begitu penting, semacam banyolan-banyolan konyol gitu, dan ocehan-ocehan tidak penting, plus terlalu banyak nama tokoh jadi aku sempat kelimpungan juga mengimajinasikannya di awal-awal hehe. Maklum, otak JONGKOK, agak sulit nerima banyak asupan .

Dan terlalu banyak misteri bertubi-tubi yang membentuk sejuta pertanyaanku (dan Gita), yang satu pun belum terkuak, atau masih samar-samar. Sama kayak Gita, aku rasanya puyeng dan mau gila ngikutin kasus perkasus hehe. Tapi bagus, sih, mengundang banyak misteri.

 Zero Class ini mengingatkanku pada kelas IPA1 yang dulu aku tempati semasa SMA hehe. Rasa-rasanya sih nyaris mirip walau tidak sama. Maksudku, setidaknya kelasku tidak sebobrok itu, dan tidak mengalami diskriminasi separah itu :p

Kelas IPA 1 yang aku tempati selama dua tahun itu, sejak kelas dua hingga kelas tiga (karena tidak mengalami perubahan kelas), di sekolah kami dipandang sebagai kelas ‘IPS 3’ oleh guru-guru dan murid-murid kelas lain. Bahkan julukan ini menyebar hingga ke Senior dan Junior. Semua tahu bagaimana repustasi IPA 1 yang disebut sebagai ‘IPS 3’ (bukan Zero Class, hehe).

Kenapa disebut IPS3? Karena kelakuan kami, yang seakan-akan kumpulan anak-anak IPA terbuang. Dianggap menyamai perilaku anak IPS oleh guru-guru di sekolah hingga selalu disebut “IPS 3”.

Beda dengan Zero Class, kami memang tidak dijauhi atau disinisi. Semua warga sekolah berhubungan baik dan normal-normal aja ke kami :p, tapi tetap ada sisi pandangan lain pada kelas kami ini hehehe.

Dan kami juga bukan kalangan orang-orang kere secara mayoritas ya, dan tidak ada permasalahan antar KUBU juga seperti Nathan dan Radit, hehe.

Tapi, tetap saja, membaca novel Zero Class ini kembali mengingatkanku pada masa SMA. Kurang lebih dalam beberapa hal ‘kami’ begitu mirip.

Lagi baca Novel ”Zero Class”nya Pricillia A.W nih

Ternyata benar  apa yang orang-orang bilang, novel keduanya ini jauuuuhhh lebih baik dari novel perdananya, hehe. Aku pun mengakui itu.

Aku cukup menikmati novel ini, walau sempat bingung juga karena terlalu banyak ‘adegan-adegan’ tambahan yang sebenarnya nggak begitu penting, semacam banyolan-banyolan konyol gitu, dan ocehan-ocehan tidak penting, plus terlalu banyak nama tokoh jadi aku sempat kelimpungan juga mengimajinasikannya di awal-awal hehe. Maklum, otak JONGKOK, agak sulit nerima banyak asupan .

Dan terlalu banyak misteri bertubi-tubi yang membentuk sejuta pertanyaanku (dan Gita), yang satu pun belum terkuak, atau masih samar-samar. Sama kayak Gita, aku rasanya puyeng dan mau gila ngikutin kasus perkasus hehe. Tapi bagus, sih, mengundang banyak misteri.

 Zero Class ini mengingatkanku pada kelas IPA1 yang dulu aku tempati semasa SMA hehe. Rasa-rasanya sih nyaris mirip walau tidak sama. Maksudku, setidaknya kelasku tidak sebobrok itu, dan tidak mengalami diskriminasi separah itu :p

Kelas IPA 1 yang aku tempati selama dua tahun itu, sejak kelas dua hingga kelas tiga (karena tidak mengalami perubahan kelas), di sekolah kami dipandang sebagai kelas ‘IPS 3’ oleh guru-guru dan murid-murid kelas lain. Bahkan julukan ini menyebar hingga ke Senior dan Junior. Semua tahu bagaimana repustasi IPA 1 yang disebut sebagai ‘IPS 3’ (bukan Zero Class, hehe).

Kenapa disebut IPS3? Karena kelakuan kami, yang seakan-akan kumpulan anak-anak IPA terbuang. Dianggap menyamai perilaku anak IPS oleh guru-guru di sekolah hingga selalu disebut “IPS 3”.

Beda dengan Zero Class, kami memang tidak dijauhi atau disinisi. Semua warga sekolah berhubungan baik dan normal-normal aja ke kami :p, tapi tetap ada sisi pandangan lain pada kelas kami ini hehehe.

Dan kami juga bukan kalangan orang-orang kere secara mayoritas ya, dan tidak ada permasalahan antar KUBU juga seperti Nathan dan Radit, hehe.

Tapi, tetap saja, membaca novel Zero Class ini kembali mengingatkanku pada masa SMA. Kurang lebih dalam beberapa hal ‘kami’ begitu mirip.

Senin, 31 Desember 2012

Berita 'menjelang tahun baru'


Twitter ramai! Twitter  ramai!!

Apa ada hubungannya dengan pergantian tahun 2012 ke 2013?

Entah lah…

Yang jelas pergantian tahun ini ditandai dengan TEMA yang super hangat banget di twitter. yaitu, permainan Tod, dan kasus Dwita atau Bianca.

Awalnya aku kaget sih, bangun pagi, check twitter, eh udah ramai aja yang ngebahasin soal Bianca a.ka Dwitasari.

Ada beberapa akun yang mengulas habis-habisan tentang cewek satu ini, dan mencoba membuka kedoknya yang akhirnya terbongkar.

Rrr… jujur aja aku juga awalnya sempat syok, tapi aku coba nggak peduli. Tapi nggak bisa juga, soalnya TL ramai banget ngebicarain, yang mau nggak mau membuatku jadi penasaran dan akhirnya nyari tahu.

Setelah tahu semuaaaannyaaa… (nggak nyangka aku jago juga urusan ngestalk TL orang plus bongkar google cuma buat nyari tahu permasalahan sampai ke akar-akarnya, hehe) aku sih nggak benci sama Dwita. Mungkin kecewa saja ‘sedikit’.

 Hehe. Sedikit saja kok.


Aku tahu Dwita saat Novel RDJ lagi booming-boomingnya di twitter, plus film Cinta tapi Bedanya. Dan aku sudah pernah ngunjungin blognya, dan aku tahu dia anak Sastra UI.

Dwita itu bisa dibilang lumayan menginspirasiku. Aku sempat menjadikannya panutan, dimana menurutku dia sosok yang patut diacungin jempol.

Kenapa? Karena berkat dia lah akhirnya aku punya keinginan untuk pindah jurusan (dari farmasi) ke Sastra.

Jujur aja, dulu sebelum tahu Dwita aku sama sekali tak punya tujuan hidup. Aku bingung dan bimbang.

Tapi, entah kenapa setelah tahu Dwita, akhirnya menginspirasiku untuk masuk Sastra.

Jadi, itu mungkin sebabnya aku ‘sedikit’ kecewa saat tahu rumor tentangnya yang heboh kemarin.

Tapi ya sudah lah ya… siapapun dia, toh sama sekali nggak merugikanku. Justru dia membawa aura positif untukku.

Aku juga nggak mau ngejudge dia. Toh aku nggak kenal dia, hanya tahu sebatas via blognya dan twitter.

Entah kebenarannya bagaimana dengan rumor itu.. yang jelas menurutku, apapun kesalahan dia di masa lalu tak perlulah diungkit-ungkit.

Bagaimana pun dulunya dia, toh dia sekarang bisa membuktikan kalau dia bisa sukses dengan caranya sendiri.

Kadang aku pikir, yang menggembar-gemborkan kasus Dwita ini, antara ingin menjatuhkan atau memang ingin menegakkan kebenaran? Entahlah, beda-beda tipis sih iya…antara kritis dan sirik :p

Bisa jadi awalnya rumor ini terkuak secara tak sengaja, namun oleh orang-orang yang tidak senang melihat kejayaan/kemakmuran orang lain, mulai melebarkan kasus ini, dan menyebarkan aura negatif hingga akhirnya menjadi sorotan banyak orang. Tanpa sadar mereka sebenarnya didorong oleh rasa sirik yang mungkin selama ini terpendam :p.

Karena menurutku, kalaupun memang DULU Dwita pernah punya scandal, toh ITU kan DULU.

Dan dia sudah membuktikan bahwa dirinya bisa bangkit sendiri dengan kedua tangan dan kakinya. KITA yang mengungkit-ungkit kesalahan orang di masa lalu, sebenarnya sama saja KITA nggak senang melihat perubahan yang lebih baik dari orang itu.

Bisa tidak kita pandang orang dari sosoknya yang sekarang tanpa harus melibatkan masa lalunya?

Setiap orang pernah melakukan salah, setiap orang punya MASA KELAM yang tidak ingin dia ingat, setiap orang punya MASA LALU yang ingin dia lupakan.

Lalu, apa KALIAN punya kebanggaan tersendiri gitu ya kalau membongkar luka lama seseorang?

Ada kesenangan tersendiri di hati KALIAN melihat orang yang sedang merangkak untuk menjadi lebih baik, dan coba meninggalkan masa lalunya yang buruk, akhirnya terjatuh lagi karena KALIAN membayang-bayanginya dengan masa lalu yang SENGAJA kalian KOYAK lagi?


Jedotin kepala kalian ke dinding, kalau MEMANG kalian tidak pernah punya kesalahan, tidak punya masa lalu yang kelam yang tidak ingin diungkit lagi, tidak punya sisi gelap di kehidupan kalian.

So, intinya… apa untungnya sih merecokin masa suram seseorang? Selama dia nggak merugikan kalian, dan selama dia nggak mengulangi lagi kesalahannya dia? Biarkan lah dia hidup dengan jalan baru yang telah dia pilih.

Setiap orang punya kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik!


Waduh…kok ujung-ujungnya jadi ‘agak’ emosi ya aku nulisnya? Sorry, kebawa suasana.. *meringis*

Tapi, ya memang begitu. Yang LALU biar lah berlalu. Lihat yang SEKARANG dan ke DEPAN.
:)


Twitter ramai! Twitter  ramai!!

Apa ada hubungannya dengan pergantian tahun 2012 ke 2013?

Entah lah…

Yang jelas pergantian tahun ini ditandai dengan TEMA yang super hangat banget di twitter. yaitu, permainan Tod, dan kasus Dwita atau Bianca.

Awalnya aku kaget sih, bangun pagi, check twitter, eh udah ramai aja yang ngebahasin soal Bianca a.ka Dwitasari.

Ada beberapa akun yang mengulas habis-habisan tentang cewek satu ini, dan mencoba membuka kedoknya yang akhirnya terbongkar.

Rrr… jujur aja aku juga awalnya sempat syok, tapi aku coba nggak peduli. Tapi nggak bisa juga, soalnya TL ramai banget ngebicarain, yang mau nggak mau membuatku jadi penasaran dan akhirnya nyari tahu.

Setelah tahu semuaaaannyaaa… (nggak nyangka aku jago juga urusan ngestalk TL orang plus bongkar google cuma buat nyari tahu permasalahan sampai ke akar-akarnya, hehe) aku sih nggak benci sama Dwita. Mungkin kecewa saja ‘sedikit’.

 Hehe. Sedikit saja kok.


Aku tahu Dwita saat Novel RDJ lagi booming-boomingnya di twitter, plus film Cinta tapi Bedanya. Dan aku sudah pernah ngunjungin blognya, dan aku tahu dia anak Sastra UI.

Dwita itu bisa dibilang lumayan menginspirasiku. Aku sempat menjadikannya panutan, dimana menurutku dia sosok yang patut diacungin jempol.

Kenapa? Karena berkat dia lah akhirnya aku punya keinginan untuk pindah jurusan (dari farmasi) ke Sastra.

Jujur aja, dulu sebelum tahu Dwita aku sama sekali tak punya tujuan hidup. Aku bingung dan bimbang.

Tapi, entah kenapa setelah tahu Dwita, akhirnya menginspirasiku untuk masuk Sastra.

Jadi, itu mungkin sebabnya aku ‘sedikit’ kecewa saat tahu rumor tentangnya yang heboh kemarin.

Tapi ya sudah lah ya… siapapun dia, toh sama sekali nggak merugikanku. Justru dia membawa aura positif untukku.

Aku juga nggak mau ngejudge dia. Toh aku nggak kenal dia, hanya tahu sebatas via blognya dan twitter.

Entah kebenarannya bagaimana dengan rumor itu.. yang jelas menurutku, apapun kesalahan dia di masa lalu tak perlulah diungkit-ungkit.

Bagaimana pun dulunya dia, toh dia sekarang bisa membuktikan kalau dia bisa sukses dengan caranya sendiri.

Kadang aku pikir, yang menggembar-gemborkan kasus Dwita ini, antara ingin menjatuhkan atau memang ingin menegakkan kebenaran? Entahlah, beda-beda tipis sih iya…antara kritis dan sirik :p

Bisa jadi awalnya rumor ini terkuak secara tak sengaja, namun oleh orang-orang yang tidak senang melihat kejayaan/kemakmuran orang lain, mulai melebarkan kasus ini, dan menyebarkan aura negatif hingga akhirnya menjadi sorotan banyak orang. Tanpa sadar mereka sebenarnya didorong oleh rasa sirik yang mungkin selama ini terpendam :p.

Karena menurutku, kalaupun memang DULU Dwita pernah punya scandal, toh ITU kan DULU.

Dan dia sudah membuktikan bahwa dirinya bisa bangkit sendiri dengan kedua tangan dan kakinya. KITA yang mengungkit-ungkit kesalahan orang di masa lalu, sebenarnya sama saja KITA nggak senang melihat perubahan yang lebih baik dari orang itu.

Bisa tidak kita pandang orang dari sosoknya yang sekarang tanpa harus melibatkan masa lalunya?

Setiap orang pernah melakukan salah, setiap orang punya MASA KELAM yang tidak ingin dia ingat, setiap orang punya MASA LALU yang ingin dia lupakan.

Lalu, apa KALIAN punya kebanggaan tersendiri gitu ya kalau membongkar luka lama seseorang?

Ada kesenangan tersendiri di hati KALIAN melihat orang yang sedang merangkak untuk menjadi lebih baik, dan coba meninggalkan masa lalunya yang buruk, akhirnya terjatuh lagi karena KALIAN membayang-bayanginya dengan masa lalu yang SENGAJA kalian KOYAK lagi?


Jedotin kepala kalian ke dinding, kalau MEMANG kalian tidak pernah punya kesalahan, tidak punya masa lalu yang kelam yang tidak ingin diungkit lagi, tidak punya sisi gelap di kehidupan kalian.

So, intinya… apa untungnya sih merecokin masa suram seseorang? Selama dia nggak merugikan kalian, dan selama dia nggak mengulangi lagi kesalahannya dia? Biarkan lah dia hidup dengan jalan baru yang telah dia pilih.

Setiap orang punya kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik!


Waduh…kok ujung-ujungnya jadi ‘agak’ emosi ya aku nulisnya? Sorry, kebawa suasana.. *meringis*

Tapi, ya memang begitu. Yang LALU biar lah berlalu. Lihat yang SEKARANG dan ke DEPAN.
:)

 
Miss's WORLD! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template