Rabu, 16 April 2014

Surat untuk Asmirandah..



Seperti judulnya, ya... sudah jelas, tulisan ini memang ditujukan untuk Asmirandah...


Kak,..
Ini pertama kalinya aku memanggilmu Kakak.
Hm.. jujur saja, selama ini aku adalah penggemar kakak.
Bukan karena acting (karena menurutku acting kakak biasa-biasa aja, bagus, tapi nggak begitu istimewa). Melainkan karena sifat dan kepribadianmu yang selama ini kulihat dari media. Aku juga mengagumi kecantikanmu..
Berita tentangmu sejak bulan November 2013 kemarin sungguh membuatku shock..
Kenapa bisa sampai seperti ini, kak? Rasanya sangat tak percaya... Aku tak percaya dengan pilihanmu, dan apa yang kamu jalankan sekarang..
Oke, itu hakmu. Memang.
Tapi entah kenapa aku tetap saja masih merasa seperti tak percaya sampai sekarang... Tak pernah terpikirkan olehku, seorang Asmirandah yang selama ini kusukai kepribadiannya dan kukagumi kecantikannya, akan menjadi ‘begini’.
Apa dirimu benar-benar dibutakan oleh cinta? Hingga mata hatimu sudah tertutup?
Aku lihat kamu segitu mudahnya pindah agama. Seakan itu seperti pindah kelas aja.
Kalau orang yang benar-benar mendalami agamanya, pasti tak akan semudah itu bisa memutuskan dan memilih...
Karena itu, aku percaya, kau adalah orang yang tak ‘berkeyakinan’ :)... Baik dulu, maupun sekarang.
Saat kau menjadi muslimah dulu, kau pun tak berkeyakinan. Dan saat sekarang menjadi nasrani pun, kau juga tetap tak ‘berkeyakinan’.
Aku kasihan sama dirimu, Kak... :’)
Kenapa aku berkata seperti itu?
Karena kalau orang yang ‘berkeyakinan’, ia tak akan semudah itu memutuskan pindah agama, kayak pindah naik angkot.
Dan begitu juga dengan agama yang kamu anut sekarang, tetap tak ‘berkeyakinan’. Karena kalau memang kamu ‘berkeyakinan’ pada Yesus, dari awal kamu akan langsung menjadi murtad, dan kemudian menikah. Karena kau percaya pada Yesus dan agamanya, maka kau akan mantap memilih mengikuti jalannya bersama Vanno. Ya kan? Semestinya begitu, kan? Bukannya malah memaksa Vanno menjadi mualaf, dan Vanno yang tak nyaman (karena emang ia melakukan terpaksa), akhirnya dia.. ya...seperti yang kita tahu :).


Kenapa harus memaksa Vanno menjadi mualaf, kalau Asmirandah memang meyakini Yesus? Kenapa tak dari awal saja kamu mengikuti ajaran agama Vanno dan kemudian menikah? Ya jawabannya, karena kamu tak ‘berkeyakinan’. Dari awal, kamu sudah jelas sekali tak berniat masuk agama Vanno, hingga akhirnya terjadi kasus seperti sekarang, baru kamu memutuskan untuk ikut Vanno.

Kasihan. 

Kasihan dirimu, Asmirandah.. Kasihan juga Tuhan yang kamu anut agamanya. Saat menjadi hamba Allah, kau tak sungguh-sungguh menyakininya, makanya begitu mudahnya keimananmu dikalahkan oleh cinta buta. Dan Tuhanmu yang sekarang, Tuhan Yesus (katamu), kau juga tak meyakininya dari dalam hati. Karena kau mengikuti agama Kristen hanya demi Vanno, bukan Tuhannya. :)

Aku benar-benar kecewa. Rasanya semua rasa respectku padamu selama bertahun-tahun ini lenyap begitu saja...

Aku sama sekali tidak mempermasalahkan agamamu. Bukan karena kau pindah agama, makanya aku jadi gak respect. Nggak sama sekali.

Agama itu hak orang lain. Aku punya banyak teman Muslim dan Kristian. Aku tak pernah membedakan mereka, dan aku selalu menghargai mereka. 

Yang bikin aku benar-benar gak respect sama kamu, Asmirandah, adalah sifatmu. Tindakanmu.
Kalau saja dari awal kamu memutuskan untuk menganut agama Kristen dengan benar, dan menikah dengan benar, aku pasti akan senang-senang saja.

Tapi... dengan apa yang telah kamu perbuat... Menjadikan Vanno mualaf, namun menyembunyikan kenyataan itu seakan itu adalah hal ‘memalukan’, membantah dan menyangkalnya termasuk pernikahanmu (dulu yang secara agama Islam), itu jelas-jelas tindakan yang ‘tidak sopan’. Menginjak-injak agama Islam. How can you do that?

Setelah itu kalian mengklarifikasi kebohongan kalian dengan muka tak berdosa. Lalu akhirnya membatalkan pernikahan, dan Vanno balik lagi jadi Kristen, dan kamu pun kali ini turut serta.
Coba, baca. Aneh, kan?

Konyol.

Kenapa tidak dari awal saja kamu masuk agama Kristen? Tak perlu menginjak-injak agama islam dulu.

Itu yang bikin aku bener-bener marah dan kecewa. Kenapa aku dulu bisa menggemari orang sepertimu? 

Sampai sekarang aku bener-bener tak percaya...

Terlebih saat aku menonton Video-videomu yang menyanyikan lagu ‘pujian’ dan mengatakan, "..saya mungkin memang baru mengenal Tuhan Yesus, tapi saya ingin lebih jauh lagi mengenal Tuhan Yesus karena saya percaya, dia adalah satu-satunya pribadi yang tidak akan meninggalkan kita semua, tidak akan membiarkan kita terjatuh, bahkan sampai tergelepak. Dan saya yakin sekali, hmm..semua terkasih yang ada di sini, dimanapun saudara terkasih berada saat ini, pasti Tuhan Yesus selalu ada menyertai. Yang pasti kita harus tetap percaya bahwa Tuhan Yesus akan selalu mendukung kita.”

:D..
:D..
:D..
:’D

Miris ya dengarnya...

Apa waktu dia mengatakan itu, dia tak mengingat Allah SWT yang pernah ia yakini sebagai Tuhannya ya? *penasaran* :)

Aku sangat ingin tahu apa dan bagaimana kira-kira perasan Andah saat itu, adakah ia pernah mengingat Tuhan yang pernah ia yakini sebelumnya? Adakah ia teringat saat-saat ia berpuasa, shalat tarawih, shalat bersama keluarga, membaca al-qur’an, dll.. yang pastinya tak akan lagi ia lakukan... 

Kira-kira kalau ia ingat itu, apa yang ia pikirkan ya? 

Aku tak bisa terbayang.

Karena kalau aku ada di posisi Asmirandah, aku rasanya nyesek banget. Tak akan semudah itu aku move on dari ajaran agama yang aku anut selama hidupku (hitung lah 20 tahun lebih).

Kenapa dia bisa memilih Vanno sebagai pendamping hidupnya?

Laki-laki yang beraninya mempermainkan sebuah agama seperti itu (bisa pindah-pindah sesuka dan seenak jidatnya kayak pindah kamar), jelas bukan lelaki baik.. :) Segitu butanya kah matamu, Andah?

Anyway... di lain sisi aku juga tak menyalahkan Andah. Mungkin pantas saja ia akhirnya memutuskan ikut Vanno. Kalau aku misalnya terjebak di posisi dia, aku mungkin akan melakukan hal yang sama (walau aku yakin tak akan pernah melakukan perbuatan tercela seperti yang dia lakukan). Karena Asmirandah ini pasti sudah pernah berhubungan badan. Saat itu ia sudah menikah ‘sebulanan’. Tak mungkin belum melakukan.

Sudah berhubungan badan dengan Vanno, keputusan terbaik (menurut Andah) jelas adalah mengikuti Vanno. Ia tak mungkin mengorbankan hubungannya dengan Vanno begitu saja.

Dan lagi, kita tak ada yang membela dia. Semua pihak islam mengecamnya, terutama FPI. Untuk poin ini, aku bisa mengerti perasaan Andah. Aku juga tak suka FPI, dan orang-orang yang sok ‘suci’ dan benar.

Kalau kita lihat bagaimana tindakan FPI dan beberapa oknum muslim (bahkan media) yang terkesan menyudutkan, Asmirandah jelas tak merasakan ‘aman dan nyaman’. Ia diserang oleh pihak-pihak agama Islam, dan jujur saja serangan itu sudah melebihi batas, aku bisa merasakan itu, apalagi Asmirandah yang merasakan sendiri. Tapi saat ia menganut Kristen, ia merasa ketentraman. Aku bisa lihat senyuman lebar Andah setiap mengikuti pujian-pujian/acara kebaktian umat Kristen. Kristian tak ada satupun yang menghujat mereka, baik saat dulu sebelum Asmirandah masuk Kristen dan Vanno yang mengaku mualaf, hingga sekarang. Kristian sangat welcome, beda sekali dengan para muslimah yang sampai sekarang pun masih saja mengkecam Asmirandah dan Vanno.

Lalu sekarang kalian menyalahkan dan mengatai Asmirandah?? Tanpa sadar, bahwa prilaku kalian sendiri lah yang membuat seorang seperti Asmirandah akhirnya memilih pindah ke ‘ajaran’ yang menurutnya damai dan menenangkan. Semua orang pasti akan melakukan yang sama. Siapa yang mau meyakini suatu ajaran yang menggunakan kekerasan? Sedikit-sedikit mengkecam orang, sedikit-sedikit ‘menyerang’ *lirik FPI* dll. Please, perbaiki kelakuan kalian! Saya yang adalah muslim, sendirinya juga malu dan benci sama FPI serta beberapa oknum! Agama saya tidak mengajarkan kekerasan seperti itu! Jadi, tolong, jangan rusak nama agama Islam dengan kelakuan kalian yang seperti binatang buas!

Oleh karena itu, aku menghargai pilihan Asmirandah. Aku mencoba mengerti kenapa ia memilih jalan hidupnya yang sekarang ini. Walau ya.. aku tak akan bisa mengidolakannya lagi seperti dulu. Dan mungkin aku juga tak akan pernah respect lagi sama dia, sampai kapan pun... Mungkin ini terakhirnya aku menulis postingan tentang Asmirandah, dan mengikut campur urusannya.. Begitu aku memposting tulisan ini, aku akan benar-benar tak makan encampuri apapun itu tentang Asmirandah. Karena ya, maaf, aku bisa dibilang membenci kelakuannya walau aku bisa memaklumi.. :’)

Tapi, yah... sudah lah. Itu kan memang hak Asmirandah :)

Hak dia memilih jalan hidupnya.

Aku cuma mendoakan dari sini, semoga dia selalu bahagia dengan pilihannya. Semoga langgeng sama Vanno hingga akhir hayat. Dan semoga Vanno selalu membahagiakan Asmirandah. Semoga karir mereka bisa kembali seperti semula (walau aku tak akan lagi suka nonton sinetron mereka).


Seperti judulnya, ya... sudah jelas, tulisan ini memang ditujukan untuk Asmirandah...


Kak,..
Ini pertama kalinya aku memanggilmu Kakak.
Hm.. jujur saja, selama ini aku adalah penggemar kakak.
Bukan karena acting (karena menurutku acting kakak biasa-biasa aja, bagus, tapi nggak begitu istimewa). Melainkan karena sifat dan kepribadianmu yang selama ini kulihat dari media. Aku juga mengagumi kecantikanmu..
Berita tentangmu sejak bulan November 2013 kemarin sungguh membuatku shock..
Kenapa bisa sampai seperti ini, kak? Rasanya sangat tak percaya... Aku tak percaya dengan pilihanmu, dan apa yang kamu jalankan sekarang..
Oke, itu hakmu. Memang.
Tapi entah kenapa aku tetap saja masih merasa seperti tak percaya sampai sekarang... Tak pernah terpikirkan olehku, seorang Asmirandah yang selama ini kusukai kepribadiannya dan kukagumi kecantikannya, akan menjadi ‘begini’.
Apa dirimu benar-benar dibutakan oleh cinta? Hingga mata hatimu sudah tertutup?
Aku lihat kamu segitu mudahnya pindah agama. Seakan itu seperti pindah kelas aja.
Kalau orang yang benar-benar mendalami agamanya, pasti tak akan semudah itu bisa memutuskan dan memilih...
Karena itu, aku percaya, kau adalah orang yang tak ‘berkeyakinan’ :)... Baik dulu, maupun sekarang.
Saat kau menjadi muslimah dulu, kau pun tak berkeyakinan. Dan saat sekarang menjadi nasrani pun, kau juga tetap tak ‘berkeyakinan’.
Aku kasihan sama dirimu, Kak... :’)
Kenapa aku berkata seperti itu?
Karena kalau orang yang ‘berkeyakinan’, ia tak akan semudah itu memutuskan pindah agama, kayak pindah naik angkot.
Dan begitu juga dengan agama yang kamu anut sekarang, tetap tak ‘berkeyakinan’. Karena kalau memang kamu ‘berkeyakinan’ pada Yesus, dari awal kamu akan langsung menjadi murtad, dan kemudian menikah. Karena kau percaya pada Yesus dan agamanya, maka kau akan mantap memilih mengikuti jalannya bersama Vanno. Ya kan? Semestinya begitu, kan? Bukannya malah memaksa Vanno menjadi mualaf, dan Vanno yang tak nyaman (karena emang ia melakukan terpaksa), akhirnya dia.. ya...seperti yang kita tahu :).


Kenapa harus memaksa Vanno menjadi mualaf, kalau Asmirandah memang meyakini Yesus? Kenapa tak dari awal saja kamu mengikuti ajaran agama Vanno dan kemudian menikah? Ya jawabannya, karena kamu tak ‘berkeyakinan’. Dari awal, kamu sudah jelas sekali tak berniat masuk agama Vanno, hingga akhirnya terjadi kasus seperti sekarang, baru kamu memutuskan untuk ikut Vanno.

Kasihan. 

Kasihan dirimu, Asmirandah.. Kasihan juga Tuhan yang kamu anut agamanya. Saat menjadi hamba Allah, kau tak sungguh-sungguh menyakininya, makanya begitu mudahnya keimananmu dikalahkan oleh cinta buta. Dan Tuhanmu yang sekarang, Tuhan Yesus (katamu), kau juga tak meyakininya dari dalam hati. Karena kau mengikuti agama Kristen hanya demi Vanno, bukan Tuhannya. :)

Aku benar-benar kecewa. Rasanya semua rasa respectku padamu selama bertahun-tahun ini lenyap begitu saja...

Aku sama sekali tidak mempermasalahkan agamamu. Bukan karena kau pindah agama, makanya aku jadi gak respect. Nggak sama sekali.

Agama itu hak orang lain. Aku punya banyak teman Muslim dan Kristian. Aku tak pernah membedakan mereka, dan aku selalu menghargai mereka. 

Yang bikin aku benar-benar gak respect sama kamu, Asmirandah, adalah sifatmu. Tindakanmu.
Kalau saja dari awal kamu memutuskan untuk menganut agama Kristen dengan benar, dan menikah dengan benar, aku pasti akan senang-senang saja.

Tapi... dengan apa yang telah kamu perbuat... Menjadikan Vanno mualaf, namun menyembunyikan kenyataan itu seakan itu adalah hal ‘memalukan’, membantah dan menyangkalnya termasuk pernikahanmu (dulu yang secara agama Islam), itu jelas-jelas tindakan yang ‘tidak sopan’. Menginjak-injak agama Islam. How can you do that?

Setelah itu kalian mengklarifikasi kebohongan kalian dengan muka tak berdosa. Lalu akhirnya membatalkan pernikahan, dan Vanno balik lagi jadi Kristen, dan kamu pun kali ini turut serta.
Coba, baca. Aneh, kan?

Konyol.

Kenapa tidak dari awal saja kamu masuk agama Kristen? Tak perlu menginjak-injak agama islam dulu.

Itu yang bikin aku bener-bener marah dan kecewa. Kenapa aku dulu bisa menggemari orang sepertimu? 

Sampai sekarang aku bener-bener tak percaya...

Terlebih saat aku menonton Video-videomu yang menyanyikan lagu ‘pujian’ dan mengatakan, "..saya mungkin memang baru mengenal Tuhan Yesus, tapi saya ingin lebih jauh lagi mengenal Tuhan Yesus karena saya percaya, dia adalah satu-satunya pribadi yang tidak akan meninggalkan kita semua, tidak akan membiarkan kita terjatuh, bahkan sampai tergelepak. Dan saya yakin sekali, hmm..semua terkasih yang ada di sini, dimanapun saudara terkasih berada saat ini, pasti Tuhan Yesus selalu ada menyertai. Yang pasti kita harus tetap percaya bahwa Tuhan Yesus akan selalu mendukung kita.”

:D..
:D..
:D..
:’D

Miris ya dengarnya...

Apa waktu dia mengatakan itu, dia tak mengingat Allah SWT yang pernah ia yakini sebagai Tuhannya ya? *penasaran* :)

Aku sangat ingin tahu apa dan bagaimana kira-kira perasan Andah saat itu, adakah ia pernah mengingat Tuhan yang pernah ia yakini sebelumnya? Adakah ia teringat saat-saat ia berpuasa, shalat tarawih, shalat bersama keluarga, membaca al-qur’an, dll.. yang pastinya tak akan lagi ia lakukan... 

Kira-kira kalau ia ingat itu, apa yang ia pikirkan ya? 

Aku tak bisa terbayang.

Karena kalau aku ada di posisi Asmirandah, aku rasanya nyesek banget. Tak akan semudah itu aku move on dari ajaran agama yang aku anut selama hidupku (hitung lah 20 tahun lebih).

Kenapa dia bisa memilih Vanno sebagai pendamping hidupnya?

Laki-laki yang beraninya mempermainkan sebuah agama seperti itu (bisa pindah-pindah sesuka dan seenak jidatnya kayak pindah kamar), jelas bukan lelaki baik.. :) Segitu butanya kah matamu, Andah?

Anyway... di lain sisi aku juga tak menyalahkan Andah. Mungkin pantas saja ia akhirnya memutuskan ikut Vanno. Kalau aku misalnya terjebak di posisi dia, aku mungkin akan melakukan hal yang sama (walau aku yakin tak akan pernah melakukan perbuatan tercela seperti yang dia lakukan). Karena Asmirandah ini pasti sudah pernah berhubungan badan. Saat itu ia sudah menikah ‘sebulanan’. Tak mungkin belum melakukan.

Sudah berhubungan badan dengan Vanno, keputusan terbaik (menurut Andah) jelas adalah mengikuti Vanno. Ia tak mungkin mengorbankan hubungannya dengan Vanno begitu saja.

Dan lagi, kita tak ada yang membela dia. Semua pihak islam mengecamnya, terutama FPI. Untuk poin ini, aku bisa mengerti perasaan Andah. Aku juga tak suka FPI, dan orang-orang yang sok ‘suci’ dan benar.

Kalau kita lihat bagaimana tindakan FPI dan beberapa oknum muslim (bahkan media) yang terkesan menyudutkan, Asmirandah jelas tak merasakan ‘aman dan nyaman’. Ia diserang oleh pihak-pihak agama Islam, dan jujur saja serangan itu sudah melebihi batas, aku bisa merasakan itu, apalagi Asmirandah yang merasakan sendiri. Tapi saat ia menganut Kristen, ia merasa ketentraman. Aku bisa lihat senyuman lebar Andah setiap mengikuti pujian-pujian/acara kebaktian umat Kristen. Kristian tak ada satupun yang menghujat mereka, baik saat dulu sebelum Asmirandah masuk Kristen dan Vanno yang mengaku mualaf, hingga sekarang. Kristian sangat welcome, beda sekali dengan para muslimah yang sampai sekarang pun masih saja mengkecam Asmirandah dan Vanno.

Lalu sekarang kalian menyalahkan dan mengatai Asmirandah?? Tanpa sadar, bahwa prilaku kalian sendiri lah yang membuat seorang seperti Asmirandah akhirnya memilih pindah ke ‘ajaran’ yang menurutnya damai dan menenangkan. Semua orang pasti akan melakukan yang sama. Siapa yang mau meyakini suatu ajaran yang menggunakan kekerasan? Sedikit-sedikit mengkecam orang, sedikit-sedikit ‘menyerang’ *lirik FPI* dll. Please, perbaiki kelakuan kalian! Saya yang adalah muslim, sendirinya juga malu dan benci sama FPI serta beberapa oknum! Agama saya tidak mengajarkan kekerasan seperti itu! Jadi, tolong, jangan rusak nama agama Islam dengan kelakuan kalian yang seperti binatang buas!

Oleh karena itu, aku menghargai pilihan Asmirandah. Aku mencoba mengerti kenapa ia memilih jalan hidupnya yang sekarang ini. Walau ya.. aku tak akan bisa mengidolakannya lagi seperti dulu. Dan mungkin aku juga tak akan pernah respect lagi sama dia, sampai kapan pun... Mungkin ini terakhirnya aku menulis postingan tentang Asmirandah, dan mengikut campur urusannya.. Begitu aku memposting tulisan ini, aku akan benar-benar tak makan encampuri apapun itu tentang Asmirandah. Karena ya, maaf, aku bisa dibilang membenci kelakuannya walau aku bisa memaklumi.. :’)

Tapi, yah... sudah lah. Itu kan memang hak Asmirandah :)

Hak dia memilih jalan hidupnya.

Aku cuma mendoakan dari sini, semoga dia selalu bahagia dengan pilihannya. Semoga langgeng sama Vanno hingga akhir hayat. Dan semoga Vanno selalu membahagiakan Asmirandah. Semoga karir mereka bisa kembali seperti semula (walau aku tak akan lagi suka nonton sinetron mereka).

Jumat, 14 Februari 2014

Author amatir yang 'super' sombong :D

Tenang.. waktu aku menuliskan judul di atas ini, aku masih tetap dengan anggapanku yang sebelumnya kok, bahwa aku kagum dengan tulisan Yuli Pritania, bagaimana dengan diksinya yang sebenarnya sederhana dan juga agak berantakan itu, tapi ia bisa membawa pembacanya larut dalam setiap tulisannya. :D

Then, what? Kenapa aku bilang amatir?

Ya dia kan emang amatir. Hanya seorang penulis blogger, yang sekarang akhirnya mulai merambah ke dunia percetakan. Of, course, yang namanya pemula pastinya namanya amatir kan?

Hm... wait, mulai masuk ke paragraf 3 kayaknya aku mulai agak 'sinis' ya? Padahal dulu kan aku mengaku mengagumi tulisannya. Yahh.. sampai sekarang masih, kok. Cuma kalau sekarang mungkin udah sangat nggak respect aja. Sebenarnya sudah dari dulu (tahun 2012) aku sudah mulai nggak respect, tapi masih sedikiittt doang, eh..sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit :D

Awalnya dulu sebelum dia terjun ke dunia percetakan.. yah, masih seorang blogger yang ngandalin blog untuk memasarkan tulisannya agar bisa dibaca dan dikomentarin orang banyak. Dari zaman itu, dia sudah yang sombongnya amit-amit. Kadang-kadang sih masih sok ngerendah juga, bilang kalau dia itu sebenarnya bukan lah apa-apa, dan heran sendiri kenapa tulisannya banyak yang suka. (Walau aku tahu sebenarnya dia terbang ke langit ke tujuh melihat begitu banyak orang bodoh memuja karyanya).

Aku nggak respectnya apa? Ya sifatnya itu. Yang songong, sombong, merasa dirinya bak dewi dari belahan dunia mana. Dia memang nggak pernah minta disanjung-sanjung ya, tapi nggak usah munafik deh dia juga sebenarnya pasti senang dan bangga selama ini disanjung-sanjung orang.

Tapi aku pikir, tulisannya dia memang bagus. Jadi ya mungkin, itu sepantar lah dengan kesombongannya. Masih agak bisa dimaklumin, minimal dia sombong tapi tulisannya memang layak disombongin. Eh, ini aku jujur loh ngomongnya :D (karena aku kan nggak munafik kayak dia). Tulisannya itu memang bagus.

Lalu makin ke sini-sini.. sejak buku pertamanya mulai terbit, songongnya makin menjadi-jadi. Dia makin kelewatan dan keterlaluan (tingkahnya). Dan yang menggeramkan, masih banyak aja reader bodoh yang mau kayak diinjek-injek gitu sama dia. Maksudku, diketusin, dijutekin, dimaki (aku nyebutnya maki, karena kata-katanya memang terlampu kasar menurutku) dll, kok ya masih aja mengagung-agungkan dia? Kalau aku mah digituin, bakal maki balik. Emangnya dia sapa berani berbuat gitu? Penulis?? O.o Eh..Penulis sekelas Ilana Tan, Orizuka, dan bahkan J.K Rowling sekalipun yang jauuuhhhhhhh di atas dia, nggak begitu.

Oke, pasti deh kalau ada #teamYuli nemu postinganku ini dan baca, bakal ngebelain author kesayangannya itu dan ngecap aku menilai secara subjektif, alias menilai secara emosi dari sifatnya, bukan karyanya, seperti bagaimana Yuli mengecap orang yang menegurnya selama ini. :D

Up to you lah ya, guys..

Iya, aku sering kok lihat sudah banyak orang menegur perangai buruk dia, tapi ya gitu deh.. dasarnya emang seperti yang kubilang, dia songong, dan merasa bagaikan dewi, nggak mau terima kritikan, maunya terima pujian aja. (Tuh, kebetulan ada lagi yang jadi saksi di postingaku sebelumnya :D). Yuli ini, kalau ada yang kritik dia, bakal dijutekin, dimaki, tapi kalau dipuji-puji, diagung-agungkan, dia senang banget. :D

Tipe orang yang nggak bisa menerima saran dan kritik lah. (Heran sendiri juga gue). Kadang dia juga yang suka minta saran-kritik-pertanyaan ke readernya untuk sebagai penilaian tulisannya, yang katanya dia sih supaya bisa lebih baik lagi. Eh... begitu ada yang ngasih saran, kritik, dan pertanyaan, dianya malah ngeyel, tetap membenarkan apa yang ia tulis dan menolak saran dan kritik itu (silahkan baca-baca aja postingan di fanpagenya). Ya kalau gitu ngapain minta saran-kritik, kalau ujung-ujungnya tetap merasa dirinya yang paling benar?

Helloowww.... Penulis sehebat Orizuka, Lexie Xu, Ilana Tan, aja nggak gitu-gitu amat yeee.

Bisa nggak dia merubah perangai jeleknya itu?

Oke, dia selalu bilang bahwa dia itu menjual karya, bukan jual mulut manis. Maksudnya, nikmatilah karyanya, dengan mengabaikan segala perangai buruknya dia..kkkkk~ Ya mana bisa gitu. Aku tahu dia benar, bahwa seorang penulis itu ya harusnya yang dilihat adalah tulisannya, bukan siapa dan bagaimana penulisnya. Tapi nggak bisa gitu kan? Pada dasarnya semua manusia pasti menilainya sepaket. Nggak lebih, nggak kurang.

Oke, mungkin karya lo bagus, dan sejelek apapun sifat lo, kita bakal tetap suka karya lo. Tapi pasti tetap ada yang beda. Sama kayak ini misalnya ya, ada tukang sayur di pasar. Sayurnya selalu seger-seger, tapi yang jual jutek. Ya kita mah ogah beli di dia, mending di lain. Atau kayak tukang konter pulsa jutek (seperti yang pernah aku ceritakan dulu), karena dia jutek, aku nggak pernah mau beli di konternya walaupun cuma jalan kaki 5 menit dari rumah. Aku lebih milih beli pulsa ke konter yang jauhnya jalan kaki 20 menit. See? Bagaimanapun bagusnya kerjamu atau sesuatu yang kau hasilkan, kalau sifatmu jelek, tetap nggak bagus dan nggak ada yang suka.

Kayaknya Yuli ini dulu selalu absen deh waktu SD pas pelajaran PPKN (dulu namanya PPKN kan?)

Yuli pasti ngelak, bahwa dia tidak mau munafik dengan pura-pura bermulut manis. Dia lebih suka tampil apa adanya (yang jutek nggak banget gitu). Jiaah.. sebenarnya nggak ada yang namanya berbuat kebaikan itu munafik. Ramah pada orang lain itu kan merupakan sifat yang baik. Pada dasarnya, kalau dia memang punya ketulusan, dia pasti bisa melakuannya. Menurutku Yuli terlalu lebay mengartikan bermulut manis di sini. Entah kenapa, dia menganggap bersikap ramah pada orang lain (terutama readernya), adalah suatu hal yang bukan dia banget. Heran, bangga amat yak dengan sosoknya yang sombong itu?

 
Sering ya aku lihat, kalau ada readernya yang nanya, dia jawabnya........ wah, parah banget. Sampai aku nggak bisa mengatakannya ulang. -_- Baca aja sendiri deh di blog atau fanpagenya, pasti sering nemu kok itu.. liat aja cara dia menjawab pertanyaa orang. Hayo, yang pernah nanya ke dia dan dijawab dengan jawaban minta ditampol banget, mana suaranyaa???

Yang suka bikin geramnya, itu adek-adek, walau sudah digituin sama dia, masih aja ngagung-ngagungin dia dengan kata-kata memuja. Berasa diinjek-injek nggak sih? Kok ya mau-maunya gitu, sudah digituin masih aja memuja. Kayak lagi muja Raja Firaun deh liatnya -_-

Aku tekankan ya, aku bukannya sirik. Sumpah, nggak. Bukankah aku pernah bilang (dan bahkan sekarang pun masih), bahwa aku mengagumi tulisannya dia. Dan itu aku tulus dari hati. Walau sekarang tulisannya dia semakin cemen sih.. diksinya memang semakin bagus dan semakin sempurna, tapi plot ceritanya nggak. Semakin ke sini malah semakin cemen, karena seringnya cuma berat di romantisme, tapi di konflik, anjlok parah.

Duh..kok ya makin ke sini isi postingan ini nggak ada intinya sih ? -_-

Ya sudah lah.. intinya ya cuma itu, Yuli Pritania adalah author amatir yang 'super' sombong.

Terserah kalau dia dan para pencinta Yuli Pritania mau ngatain aku cuma menilai dia dari sifatnya aja.

Kalau orang pintar sih, pastinya bisa tahu bahwa aku menegur dia tanpa mengesampingkan kenyataan kalau tulisannya itu memang bagus, walau sekarang mulai cemen, dan yeah bagian ini memang harus diulang :D. Tapi kan cemen itu cuma plotnya doang, toh diksinya semakin sempurna. (Walau aku baru sadar, nggak heran kalau plot ceritanya cemen, karena selama ini pun plot ceritanya dia yang masuk kategori bagus adalah hasil memplagiat ide cerita orang yang kemudian didaurulang dan dimodif sana-sini, bukan murni ide sendiri. Jadi yang cemen-cemen itu pasti ide murni dia sendiri).

Dan menurutku ini wajar. Kalau orang bisa jadi sangat membenci seseorang kalau sifatnya jelek, sebagus apapun itu hasil karyanya.

Yuli, mulai sekarang, belajar lah untuk bisa menerima kritik dan saran dari orang lain ya :)

Tak ada salahnya kan belajar ramah sama orang, dan pada siapapun? Walaupun ini hanyalah socmed, tapi ramah itu tak memandang bulu. Tak mandang siapa dan tempat

Nggak malu apa, sudah sampai ditegur sama Ilana Tan loh,... ckckckck (kalau aku sih malu pastinya).

Dan buat reader Yuli Pritania yang suka mengecam orang, sebenarnya justru kalian lah yang nggak bisa menilai sesuatu secara objektif. (Sampai sekarang gue penasaran, kok ya betah amat dijutekin sama author amatir satu ini O.o)

Btw, selain plot cerita Yuli yang semakin cemen, (dan authornya yang memang dasarnya 'mesum'), aku agak tergelitik sama profil Han Hye Na (tepatnya si ullzang yang dipakai sebagai wajah HyeNa). Itu Yuli nggak salah pilih? O.o Karena... sangat jauh berbeda dengan karakter HyeNa yang digambarkan . HyeNa yang sangat cantik (always dijelaskan berkali-kali di setiap cerita), dadanya yang blblaC. Ulang sekali lagi ya.. C! Dan ini yang penting, karakter HyeNa yang kuat, and terkadang devil.. you knoe lah~ Itu sama sekali nggak ada cocok-cocoknya dengan profil picture dia. Itu cewek ullzang yang dipakai mukanya selalu kayak orang bloon gitu. Nggak ada sama sekali kesan-kesan sangar, kuat, devil, dll. Oon, iya.


Nggak percaya? O.o


Lihat aja..


285771_545959468758495_431585465_n 


14hZL copy












photo149713



562077_436939813061121_251295697_n.png


Iugis




 


Dan lain-lainnya.. (masih banyak lagi sih, intip aja sendiri di blog or fanpagenya). Jadi, bagaimana bisa Yuli ini memasang ullzang ini sebagai HyeNa ya?? -_- Itu kan bukan HyeNa banget. Liat kan? Mukanya tampang cewek bloon gitu (maksudnya dibuat bloon dan sok-sok imut), itu kan bukan Hynea banget -_- Nggak matching amat dah sama karakter yang dituliskan. Trus dadanya.... itu mananya yang C sih??? Yuli itu tau kan ukuran dada C itu bagaimana? :/

Malah pernah ya dadanya HyeNa tuh rata abisssss, sementara di ceritanya dibilang ukuran C. Aku sampai bengong melihat poster fanficnya waktu itu... dicerita katanya C lah posternya malah dada rata abisss -,- *pingsan*.

Ini bukan hal penting sih, tapi sebagai reader ini mengganggu, karena kita jadi nggak bisa benar-benar menghayati ceritanya. Secara adegannya HyeNa kan kayak murka mulu, tapi kita nggak bisa kebayang muka murka HyeNa kayak mana, secara itu fotonya muka bloon semua gitu -_-


Pasti deh..pasti deh nih aku bakal dibilangin menghujat orang hanya karena masalah pribadi alias karena aku membencinya :D

Yah.. aku tak akan menyangkal maupun membantah. Karena, itu kenapa aku bilang, bahwa semua manusia menilai segala sesuatu itu sepaket. Ibaratnya, tak peduli negaramu indah kalau perangai bangsanya jelek, tak peduli tokomu punya barang berkualitas kalau pelayanannya sangat tidak memuaskan, dll :D

Jadi, sesuatu yang normal kalau orang yang tadi sebelumnya mengakui sebuah karya yang bagus tapi kemudian berbalik mengkritik hanya karena hal yang sangat tak berkenan. Sebenarnya, dari dulu pun penilaianku pada Yuli tuh emang begini. Tentang plot ceritanya yang cemen, mukanya HyeNa yang bloon, dan bahkan....oh ya satu lagi,

Ketidaksukaanku pada bagaimana dia membawakan karakter Kyu yang semakin kesini semakin JAUUH dari karakter asli Kyu! Sebagai istrinya  Kyu, aku agak nggak terima di sini. Kyu dibikin setan banget sama dia. Bahkan sampai-sampai Kyu versi Yuli melontarkan hal-hal tak mengenakkan tentang SeoHyun (hanya karena si penulisnya sendiri yang keki sama seoHyun). Kyu asli mah mana ada segitu sensinya sama seoHyun -_-

Aku sampai bingung kenapa banyak orang yang nyebut-nyebut kalau karakter Kyu di setiap tulisan Yuli itu karakter real. Apa?? Ulang lagi ya.. APHAA?? *keselekToa*. Buahahahaha... helloooowww... karakter real apaan? Kyu sedingin itu? Sedevil itu? Seromantis jijay mesum gitu? Secintamatinya gitu sama HyeNa?? Sesensinya gitu sama cewek-cewek (sebut aja SeohYun, trus pasangan WGM Chinanya itu)? Buahahahaa... Kyu mana ada kayak gitu. Beda jauh amat, woyy! Jadi, jangan deh pada bilang karakter Kyu di FF si Yuli sama persis sama Kyu asli. Masih berani ada yang bilang, sini tak keplak pakai catokan panas. lagian heran, sok tahu amat sih.. Pernah liat Kyu langsung aja kagak, kenal juga kagak, udah berani ngeluarin statement gitu. Karakter asli Kyu itu, cuma dirinya sendiri, keluarga/kerabat dekatnya, dan Tuhannya yang tahu, wooii.

Tapi, dulu semua hal itu bisa kutoleran karena ini kan hanya fanfic, dan lagi tulisan dia bagus. Jadi itu semua kekurangan (yang bahkan masih banyak yang belum tersebutkan) bisa ditutupin. Cuma, berhubung sekarang aku udah sangat nggak respect sama si Yuli, ya udah jadinya keluar semua deh tuh uneg-uneg ku. :D

Yuli, kalau sifatnya dia tetap jelek selamanya, dan dia tak mau merubah.. suatu saat pasti dia bakal kena batunya juga :)

Padahal ya.. kalau saja dia mau menjadi lebih baik, aku yakin sekarang dia sudah terkenal (sekarang? Emang belum terkenal menurutku, karena di GR pun yang ngeRate bukunya dikittt amat hihi), sekalipun karyanya nggak bagus-bagus amat, pasti bakal banyak yang suka dan mau rela ngeluarin uang buat koleksi buku-bukunya.. :)

Kalau ada pembaca bertanya cara beli buku, mbok ya dijawab baik-baik.. Bukannya malah jawab "Kamu emang nggak bisa liat tulisan gede-gede, padahal sudah kujelasin cara pesannya..blabla." Nggak bisa ya jawab baik: "Penjelasannya sudah jelas kok di atas :D Dibaca lagi ya~" Kan enak dengarnya, singkat tapi enak. Daripada ngomel panjang lebar dengan kata yang nusuk si penanya? Yang ada penanya sakit hati. Dan emangnya senang kalau banyak orang yang sakit hati sama kita? Kalau bisa nyenengin hati orang dengan cara yang mudah, kenapa nggak dilakukan?







Tenang.. waktu aku menuliskan judul di atas ini, aku masih tetap dengan anggapanku yang sebelumnya kok, bahwa aku kagum dengan tulisan Yuli Pritania, bagaimana dengan diksinya yang sebenarnya sederhana dan juga agak berantakan itu, tapi ia bisa membawa pembacanya larut dalam setiap tulisannya. :D

Then, what? Kenapa aku bilang amatir?

Ya dia kan emang amatir. Hanya seorang penulis blogger, yang sekarang akhirnya mulai merambah ke dunia percetakan. Of, course, yang namanya pemula pastinya namanya amatir kan?

Hm... wait, mulai masuk ke paragraf 3 kayaknya aku mulai agak 'sinis' ya? Padahal dulu kan aku mengaku mengagumi tulisannya. Yahh.. sampai sekarang masih, kok. Cuma kalau sekarang mungkin udah sangat nggak respect aja. Sebenarnya sudah dari dulu (tahun 2012) aku sudah mulai nggak respect, tapi masih sedikiittt doang, eh..sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit :D

Awalnya dulu sebelum dia terjun ke dunia percetakan.. yah, masih seorang blogger yang ngandalin blog untuk memasarkan tulisannya agar bisa dibaca dan dikomentarin orang banyak. Dari zaman itu, dia sudah yang sombongnya amit-amit. Kadang-kadang sih masih sok ngerendah juga, bilang kalau dia itu sebenarnya bukan lah apa-apa, dan heran sendiri kenapa tulisannya banyak yang suka. (Walau aku tahu sebenarnya dia terbang ke langit ke tujuh melihat begitu banyak orang bodoh memuja karyanya).

Aku nggak respectnya apa? Ya sifatnya itu. Yang songong, sombong, merasa dirinya bak dewi dari belahan dunia mana. Dia memang nggak pernah minta disanjung-sanjung ya, tapi nggak usah munafik deh dia juga sebenarnya pasti senang dan bangga selama ini disanjung-sanjung orang.

Tapi aku pikir, tulisannya dia memang bagus. Jadi ya mungkin, itu sepantar lah dengan kesombongannya. Masih agak bisa dimaklumin, minimal dia sombong tapi tulisannya memang layak disombongin. Eh, ini aku jujur loh ngomongnya :D (karena aku kan nggak munafik kayak dia). Tulisannya itu memang bagus.

Lalu makin ke sini-sini.. sejak buku pertamanya mulai terbit, songongnya makin menjadi-jadi. Dia makin kelewatan dan keterlaluan (tingkahnya). Dan yang menggeramkan, masih banyak aja reader bodoh yang mau kayak diinjek-injek gitu sama dia. Maksudku, diketusin, dijutekin, dimaki (aku nyebutnya maki, karena kata-katanya memang terlampu kasar menurutku) dll, kok ya masih aja mengagung-agungkan dia? Kalau aku mah digituin, bakal maki balik. Emangnya dia sapa berani berbuat gitu? Penulis?? O.o Eh..Penulis sekelas Ilana Tan, Orizuka, dan bahkan J.K Rowling sekalipun yang jauuuhhhhhhh di atas dia, nggak begitu.

Oke, pasti deh kalau ada #teamYuli nemu postinganku ini dan baca, bakal ngebelain author kesayangannya itu dan ngecap aku menilai secara subjektif, alias menilai secara emosi dari sifatnya, bukan karyanya, seperti bagaimana Yuli mengecap orang yang menegurnya selama ini. :D

Up to you lah ya, guys..

Iya, aku sering kok lihat sudah banyak orang menegur perangai buruk dia, tapi ya gitu deh.. dasarnya emang seperti yang kubilang, dia songong, dan merasa bagaikan dewi, nggak mau terima kritikan, maunya terima pujian aja. (Tuh, kebetulan ada lagi yang jadi saksi di postingaku sebelumnya :D). Yuli ini, kalau ada yang kritik dia, bakal dijutekin, dimaki, tapi kalau dipuji-puji, diagung-agungkan, dia senang banget. :D

Tipe orang yang nggak bisa menerima saran dan kritik lah. (Heran sendiri juga gue). Kadang dia juga yang suka minta saran-kritik-pertanyaan ke readernya untuk sebagai penilaian tulisannya, yang katanya dia sih supaya bisa lebih baik lagi. Eh... begitu ada yang ngasih saran, kritik, dan pertanyaan, dianya malah ngeyel, tetap membenarkan apa yang ia tulis dan menolak saran dan kritik itu (silahkan baca-baca aja postingan di fanpagenya). Ya kalau gitu ngapain minta saran-kritik, kalau ujung-ujungnya tetap merasa dirinya yang paling benar?

Helloowww.... Penulis sehebat Orizuka, Lexie Xu, Ilana Tan, aja nggak gitu-gitu amat yeee.

Bisa nggak dia merubah perangai jeleknya itu?

Oke, dia selalu bilang bahwa dia itu menjual karya, bukan jual mulut manis. Maksudnya, nikmatilah karyanya, dengan mengabaikan segala perangai buruknya dia..kkkkk~ Ya mana bisa gitu. Aku tahu dia benar, bahwa seorang penulis itu ya harusnya yang dilihat adalah tulisannya, bukan siapa dan bagaimana penulisnya. Tapi nggak bisa gitu kan? Pada dasarnya semua manusia pasti menilainya sepaket. Nggak lebih, nggak kurang.

Oke, mungkin karya lo bagus, dan sejelek apapun sifat lo, kita bakal tetap suka karya lo. Tapi pasti tetap ada yang beda. Sama kayak ini misalnya ya, ada tukang sayur di pasar. Sayurnya selalu seger-seger, tapi yang jual jutek. Ya kita mah ogah beli di dia, mending di lain. Atau kayak tukang konter pulsa jutek (seperti yang pernah aku ceritakan dulu), karena dia jutek, aku nggak pernah mau beli di konternya walaupun cuma jalan kaki 5 menit dari rumah. Aku lebih milih beli pulsa ke konter yang jauhnya jalan kaki 20 menit. See? Bagaimanapun bagusnya kerjamu atau sesuatu yang kau hasilkan, kalau sifatmu jelek, tetap nggak bagus dan nggak ada yang suka.

Kayaknya Yuli ini dulu selalu absen deh waktu SD pas pelajaran PPKN (dulu namanya PPKN kan?)

Yuli pasti ngelak, bahwa dia tidak mau munafik dengan pura-pura bermulut manis. Dia lebih suka tampil apa adanya (yang jutek nggak banget gitu). Jiaah.. sebenarnya nggak ada yang namanya berbuat kebaikan itu munafik. Ramah pada orang lain itu kan merupakan sifat yang baik. Pada dasarnya, kalau dia memang punya ketulusan, dia pasti bisa melakuannya. Menurutku Yuli terlalu lebay mengartikan bermulut manis di sini. Entah kenapa, dia menganggap bersikap ramah pada orang lain (terutama readernya), adalah suatu hal yang bukan dia banget. Heran, bangga amat yak dengan sosoknya yang sombong itu?

 
Sering ya aku lihat, kalau ada readernya yang nanya, dia jawabnya........ wah, parah banget. Sampai aku nggak bisa mengatakannya ulang. -_- Baca aja sendiri deh di blog atau fanpagenya, pasti sering nemu kok itu.. liat aja cara dia menjawab pertanyaa orang. Hayo, yang pernah nanya ke dia dan dijawab dengan jawaban minta ditampol banget, mana suaranyaa???

Yang suka bikin geramnya, itu adek-adek, walau sudah digituin sama dia, masih aja ngagung-ngagungin dia dengan kata-kata memuja. Berasa diinjek-injek nggak sih? Kok ya mau-maunya gitu, sudah digituin masih aja memuja. Kayak lagi muja Raja Firaun deh liatnya -_-

Aku tekankan ya, aku bukannya sirik. Sumpah, nggak. Bukankah aku pernah bilang (dan bahkan sekarang pun masih), bahwa aku mengagumi tulisannya dia. Dan itu aku tulus dari hati. Walau sekarang tulisannya dia semakin cemen sih.. diksinya memang semakin bagus dan semakin sempurna, tapi plot ceritanya nggak. Semakin ke sini malah semakin cemen, karena seringnya cuma berat di romantisme, tapi di konflik, anjlok parah.

Duh..kok ya makin ke sini isi postingan ini nggak ada intinya sih ? -_-

Ya sudah lah.. intinya ya cuma itu, Yuli Pritania adalah author amatir yang 'super' sombong.

Terserah kalau dia dan para pencinta Yuli Pritania mau ngatain aku cuma menilai dia dari sifatnya aja.

Kalau orang pintar sih, pastinya bisa tahu bahwa aku menegur dia tanpa mengesampingkan kenyataan kalau tulisannya itu memang bagus, walau sekarang mulai cemen, dan yeah bagian ini memang harus diulang :D. Tapi kan cemen itu cuma plotnya doang, toh diksinya semakin sempurna. (Walau aku baru sadar, nggak heran kalau plot ceritanya cemen, karena selama ini pun plot ceritanya dia yang masuk kategori bagus adalah hasil memplagiat ide cerita orang yang kemudian didaurulang dan dimodif sana-sini, bukan murni ide sendiri. Jadi yang cemen-cemen itu pasti ide murni dia sendiri).

Dan menurutku ini wajar. Kalau orang bisa jadi sangat membenci seseorang kalau sifatnya jelek, sebagus apapun itu hasil karyanya.

Yuli, mulai sekarang, belajar lah untuk bisa menerima kritik dan saran dari orang lain ya :)

Tak ada salahnya kan belajar ramah sama orang, dan pada siapapun? Walaupun ini hanyalah socmed, tapi ramah itu tak memandang bulu. Tak mandang siapa dan tempat

Nggak malu apa, sudah sampai ditegur sama Ilana Tan loh,... ckckckck (kalau aku sih malu pastinya).

Dan buat reader Yuli Pritania yang suka mengecam orang, sebenarnya justru kalian lah yang nggak bisa menilai sesuatu secara objektif. (Sampai sekarang gue penasaran, kok ya betah amat dijutekin sama author amatir satu ini O.o)

Btw, selain plot cerita Yuli yang semakin cemen, (dan authornya yang memang dasarnya 'mesum'), aku agak tergelitik sama profil Han Hye Na (tepatnya si ullzang yang dipakai sebagai wajah HyeNa). Itu Yuli nggak salah pilih? O.o Karena... sangat jauh berbeda dengan karakter HyeNa yang digambarkan . HyeNa yang sangat cantik (always dijelaskan berkali-kali di setiap cerita), dadanya yang blblaC. Ulang sekali lagi ya.. C! Dan ini yang penting, karakter HyeNa yang kuat, and terkadang devil.. you knoe lah~ Itu sama sekali nggak ada cocok-cocoknya dengan profil picture dia. Itu cewek ullzang yang dipakai mukanya selalu kayak orang bloon gitu. Nggak ada sama sekali kesan-kesan sangar, kuat, devil, dll. Oon, iya.


Nggak percaya? O.o


Lihat aja..


285771_545959468758495_431585465_n 


14hZL copy












photo149713



562077_436939813061121_251295697_n.png


Iugis




 


Dan lain-lainnya.. (masih banyak lagi sih, intip aja sendiri di blog or fanpagenya). Jadi, bagaimana bisa Yuli ini memasang ullzang ini sebagai HyeNa ya?? -_- Itu kan bukan HyeNa banget. Liat kan? Mukanya tampang cewek bloon gitu (maksudnya dibuat bloon dan sok-sok imut), itu kan bukan Hynea banget -_- Nggak matching amat dah sama karakter yang dituliskan. Trus dadanya.... itu mananya yang C sih??? Yuli itu tau kan ukuran dada C itu bagaimana? :/

Malah pernah ya dadanya HyeNa tuh rata abisssss, sementara di ceritanya dibilang ukuran C. Aku sampai bengong melihat poster fanficnya waktu itu... dicerita katanya C lah posternya malah dada rata abisss -,- *pingsan*.

Ini bukan hal penting sih, tapi sebagai reader ini mengganggu, karena kita jadi nggak bisa benar-benar menghayati ceritanya. Secara adegannya HyeNa kan kayak murka mulu, tapi kita nggak bisa kebayang muka murka HyeNa kayak mana, secara itu fotonya muka bloon semua gitu -_-


Pasti deh..pasti deh nih aku bakal dibilangin menghujat orang hanya karena masalah pribadi alias karena aku membencinya :D

Yah.. aku tak akan menyangkal maupun membantah. Karena, itu kenapa aku bilang, bahwa semua manusia menilai segala sesuatu itu sepaket. Ibaratnya, tak peduli negaramu indah kalau perangai bangsanya jelek, tak peduli tokomu punya barang berkualitas kalau pelayanannya sangat tidak memuaskan, dll :D

Jadi, sesuatu yang normal kalau orang yang tadi sebelumnya mengakui sebuah karya yang bagus tapi kemudian berbalik mengkritik hanya karena hal yang sangat tak berkenan. Sebenarnya, dari dulu pun penilaianku pada Yuli tuh emang begini. Tentang plot ceritanya yang cemen, mukanya HyeNa yang bloon, dan bahkan....oh ya satu lagi,

Ketidaksukaanku pada bagaimana dia membawakan karakter Kyu yang semakin kesini semakin JAUUH dari karakter asli Kyu! Sebagai istrinya  Kyu, aku agak nggak terima di sini. Kyu dibikin setan banget sama dia. Bahkan sampai-sampai Kyu versi Yuli melontarkan hal-hal tak mengenakkan tentang SeoHyun (hanya karena si penulisnya sendiri yang keki sama seoHyun). Kyu asli mah mana ada segitu sensinya sama seoHyun -_-

Aku sampai bingung kenapa banyak orang yang nyebut-nyebut kalau karakter Kyu di setiap tulisan Yuli itu karakter real. Apa?? Ulang lagi ya.. APHAA?? *keselekToa*. Buahahahaha... helloooowww... karakter real apaan? Kyu sedingin itu? Sedevil itu? Seromantis jijay mesum gitu? Secintamatinya gitu sama HyeNa?? Sesensinya gitu sama cewek-cewek (sebut aja SeohYun, trus pasangan WGM Chinanya itu)? Buahahahaa... Kyu mana ada kayak gitu. Beda jauh amat, woyy! Jadi, jangan deh pada bilang karakter Kyu di FF si Yuli sama persis sama Kyu asli. Masih berani ada yang bilang, sini tak keplak pakai catokan panas. lagian heran, sok tahu amat sih.. Pernah liat Kyu langsung aja kagak, kenal juga kagak, udah berani ngeluarin statement gitu. Karakter asli Kyu itu, cuma dirinya sendiri, keluarga/kerabat dekatnya, dan Tuhannya yang tahu, wooii.

Tapi, dulu semua hal itu bisa kutoleran karena ini kan hanya fanfic, dan lagi tulisan dia bagus. Jadi itu semua kekurangan (yang bahkan masih banyak yang belum tersebutkan) bisa ditutupin. Cuma, berhubung sekarang aku udah sangat nggak respect sama si Yuli, ya udah jadinya keluar semua deh tuh uneg-uneg ku. :D

Yuli, kalau sifatnya dia tetap jelek selamanya, dan dia tak mau merubah.. suatu saat pasti dia bakal kena batunya juga :)

Padahal ya.. kalau saja dia mau menjadi lebih baik, aku yakin sekarang dia sudah terkenal (sekarang? Emang belum terkenal menurutku, karena di GR pun yang ngeRate bukunya dikittt amat hihi), sekalipun karyanya nggak bagus-bagus amat, pasti bakal banyak yang suka dan mau rela ngeluarin uang buat koleksi buku-bukunya.. :)

Kalau ada pembaca bertanya cara beli buku, mbok ya dijawab baik-baik.. Bukannya malah jawab "Kamu emang nggak bisa liat tulisan gede-gede, padahal sudah kujelasin cara pesannya..blabla." Nggak bisa ya jawab baik: "Penjelasannya sudah jelas kok di atas :D Dibaca lagi ya~" Kan enak dengarnya, singkat tapi enak. Daripada ngomel panjang lebar dengan kata yang nusuk si penanya? Yang ada penanya sakit hati. Dan emangnya senang kalau banyak orang yang sakit hati sama kita? Kalau bisa nyenengin hati orang dengan cara yang mudah, kenapa nggak dilakukan?







Jumat, 18 Oktober 2013

Aku ingin...

Dulunya klise.

Saat TK, ingin menjadi dokter, dan kelak menikah dengan lelaki yang tampan dan kayanya bagai pangeran dari negeri dongeng.

Saat SD, ingin menjadi dokter ataupun orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, dan teteup ingin kelak dipersunting oleh lelaki yang tampan dan kayanya menyamai pangeran dari negeri dongeng.

Saat SMP, ingin masuk SMA Favorit, dan saat kuliah ingin ambil jurusan kedokteran atau psikis, karena demi adek lelaki saya yang butuh bimbingan terapi pengobatan serius. Tak lupa, tentunya ingin menjadi penulis novel. Masih mengharap dipersunting oleh lelaki yang tampan dan kayanya menyerupai pangeran dari negeri dongeng.

Saat SMA, ingin lulus, bagaimanapun nilainya, tak peduli. Yang penting lulus saja dulu. Dan nggak muluk-muluk, ingin langsung menikah begitu lulus SMA dengan pria baik-baik bertanggung jawab yang bisa menerima apa adanya. Menjadi penulis novel tetap menjadi satu impian besar. :)

Saat kuliah, ingin menemukan jati diri, siapa saya sebenarnya, dan sebenarnya apa tujuan hidup saja.

Sekarang, saat ini, tak mempunyai keinginan apa-apa lagi..

Hanya menyisakan tiga impian. Ingin menjadi penulis novel. Ingin tetap sehat, minimal hingga saya bisa membahagiakan kedua orang tua saya, terutama ibu saya.

Hanya hal-hal itu yang sedang saya kejar sekarang. Menjadi penulis, selalu sehat, minimal hingga saya sudah bisa membahagiakan dan membanggakan orang tua, terutama ibu.



Dulunya klise.

Saat TK, ingin menjadi dokter, dan kelak menikah dengan lelaki yang tampan dan kayanya bagai pangeran dari negeri dongeng.

Saat SD, ingin menjadi dokter ataupun orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, dan teteup ingin kelak dipersunting oleh lelaki yang tampan dan kayanya menyamai pangeran dari negeri dongeng.

Saat SMP, ingin masuk SMA Favorit, dan saat kuliah ingin ambil jurusan kedokteran atau psikis, karena demi adek lelaki saya yang butuh bimbingan terapi pengobatan serius. Tak lupa, tentunya ingin menjadi penulis novel. Masih mengharap dipersunting oleh lelaki yang tampan dan kayanya menyerupai pangeran dari negeri dongeng.

Saat SMA, ingin lulus, bagaimanapun nilainya, tak peduli. Yang penting lulus saja dulu. Dan nggak muluk-muluk, ingin langsung menikah begitu lulus SMA dengan pria baik-baik bertanggung jawab yang bisa menerima apa adanya. Menjadi penulis novel tetap menjadi satu impian besar. :)

Saat kuliah, ingin menemukan jati diri, siapa saya sebenarnya, dan sebenarnya apa tujuan hidup saja.

Sekarang, saat ini, tak mempunyai keinginan apa-apa lagi..

Hanya menyisakan tiga impian. Ingin menjadi penulis novel. Ingin tetap sehat, minimal hingga saya bisa membahagiakan kedua orang tua saya, terutama ibu saya.

Hanya hal-hal itu yang sedang saya kejar sekarang. Menjadi penulis, selalu sehat, minimal hingga saya sudah bisa membahagiakan dan membanggakan orang tua, terutama ibu.



Rabu, 25 September 2013

Postingan Random di Kala Pilek Mendera..

Iya. Itu tulisan dalam sebuah notes, dan juga tissue yang bertebaran dimana-mana *ngelirik segulung tissue yang sudah habis*

Lagi pilek.. T__T

Ini ngetiknya juga sambil gosok-gosok hidung pake tissue... perihhh... dari semalaman digosok terus, bagaimana kagak?? -__-

Kalau notes itu, itu aku lagi latihan bahasa inggris :p

Gara-gara semalam ada beberapa akun yang ngebahas soal BACA buku bahasa inggris, termasuk kak @benzbara_ , aku pun jadi mikir... iya juga ya.. bagaimana kita mau bisa pintar bahasa inggris, dan memperkaya perbendaharaan kosakata kita, kalau malas membaca??

Aku tuh termasuk dari salah satu orang yang nggak bisa bahasa inggris. Tapi aku suka bahasa inggris. Aneh kan?? Hahahaha :P

Iya, aku suka bahasa inggris. Tapi aku nggak bisa, dan nggak pintar bahasa inggris. Karena itu walaupun mau, aku tetap ogah baca buku bahasa inggris. Alasannya bukan karena nggak suka, tapi karena aku yakin.. dua tahun juga nggak bakal kelar tuh bacanya (--"), sedangkan masih banyak buku lain yang antri untuk dibaca. Seringkali aku mencoba untuk mulai membaca buku bahasa inggris, tapi dua 2-3 halaman pertama aku udah mulai malas, bosan, dan langsung tutup buku.

Masalahnya, sudah 1 jam berlalu, aku masih stuck di halaman pertama -__-

Yang ada, aku bukan fokus pada ceritanya, malah fokus bolak-balik buka kamus dan ggole translate cuma untuk mengartikan kata demi kata yang aku nggak mudeng. Ya, bosan kan jadinya?? Ngerti ceritanya kagak, puyeng iya.. Padahal aku itu baca buku pengennya supaya otak fresh, bukannya malah jadi tambah stress :p hahahha -_-

Aku bukannya nggak punya kemauan untuk membaca buku bahasa inggris. Mau! Malah sering nyoba untuk baca. Tapi, ya gitu... stuck sampai 2-3 halaman pertama :/

Tapi, kata-kata kak Bara di twitternya semalam tuh sukses bikin aku terpacu lagi. Lupa sih, dia ngomong apa aja.. yang jelas aku jadi pengen bisa namatin setidaknya SATU aja dulu deh, buku/novel bahasa inggris..huhuh. Aku suka heran, kenapa aku suka nggak ngerti novel bahasa inggris (kalimat yang digunakannya kebanyakan di luar kosakataku). Padahal gini-gini, aku termasuk yang ngerti banyak kosakata bahasa inggris loh. Walaupun aku bego bahasa inggris, tapi kalau disuruh nonton film dengan subtittle inggris, aku bisa ngerti. Aku bisa menerjemahkan, tanpa harus buka kamus atau ngintip google translate. Aku udah namatin lumayan banyak film/drama dengan sub inggris. Mulai dari film-film india, drama korea, drama jepang, drama taiwan, reality show, dan bahkan anime-anime seperti Itazura Na kiss, sailor moon, dll

Tapi, anehnya..kemampuanku itu nggak berlaku untuk novel bahasa inggris. Mungkin karena mereka menggunakan kata-kata yang belum pernah aku dengar. Dan kadang, walaupun kata itu aku pernah dengar, tetap saja aku nggak ngerti. You know.. bahasa inggris itu kan selalu punya arti bermacam-macam, apalagi kalau digabungkan dengan kata-kata lainnya, artinya bisa berubah lagi. Ckckckck.. *pijat kepala*

Dulu aku pernah dekat sama cowok asing, orang Iran. Karena dia nggak bisa bahasa Indonesia, dan aku nggak bisa bahasa Iran, jadilah kita komunikasi pakai bahasa inggris. Dia bahasa inggrisnya jago banget. Sedangkan aku nggak. Jadi, kalau aku ngomong tuh main hajar bleh aja! Hahaha. Nggak merhatiin lagi grammar dll-nya. Tapi, dia nggak ambil pusing tuh. Malah enjoy aja ngobrolnya. Dan kita malah nyambung kalau ngobrol walau pakai bahasa planet! Hahahaha

Tapi.... aku kalau ngobrol dia pakai text . Karena kalau pakai mulut.. asli.. aku cuma ketawa ngakak ajaaa. Masalahnya aku nggak ngerti dia ngomong apa, dan aku juga nggak bisa ngomong.

Aku memang bermasalah banget dalam hal listening and speaking huhuhu . Nilai aku waktu sekolah, sumpah..ancur-ancuran. Yang menolongku paling nilai writing and reading, itupun pas-pasan..hahaha

Maka itu semalam setelah terpacu oleh tweet-tweet kak Bara, aku langsung mulai belajar bahasa inggris walau masih angin-anginan. Btw.. tulisanku jelek ya! Hahahaha. Nggak usah heran, aku sendiri aja dari dulu dah heran, kok kenapa tulisanku jelek banget... (--")

Sampai-sampai kakak-kakak sepupuku suka pada bilang, "Ih.katanya penulis..tapi tulisannya kok jelek."

Bzzzzzttt... -_-

Yeee, biarin.. Kan penulis nggak ada hubungannya sama tulisan bagus atau tidak.

Pernah juga aku dengan frustasi nanya, "Kenapa ya tulisanku bisa jelek?"

Kata kakak sepupuku, "Kalau mau tulisan cantik, harus rajin nulis."

Ya ampun.. aku tuh rajin nulis bangetttt!! Dulu..

Iya, dulu, dari TK, sampai kelas 3 SMP, ya ampun sumpaahh aku tuh rajin banget menulis. Mungkin sudah ada kali berjuta lembar. Aku dulu suka bikin novel di buku (buku apa itu namanya, yang untuk tugas akuntasi/pembukuan itu). Bayangin aja.. aku nulis tuh berapa banyak?? Ckckckck...

Jadi kalau alasannya tulisanku jelek karena jarang nulis mah itu salah banget!! -__-

Yah...memang hanya misteri Tuhan kenapa tulisanku jelek.. nggak apa-apa deh. Yang penting kan, bisa dibaca :p Berarti nggak jelek-jelek amat.

*ambil tissue* *ngelap hidung yang udah meler kesana-kemari*

hiks... pedihhh hidungku... T_T
Iya. Itu tulisan dalam sebuah notes, dan juga tissue yang bertebaran dimana-mana *ngelirik segulung tissue yang sudah habis*

Lagi pilek.. T__T

Ini ngetiknya juga sambil gosok-gosok hidung pake tissue... perihhh... dari semalaman digosok terus, bagaimana kagak?? -__-

Kalau notes itu, itu aku lagi latihan bahasa inggris :p

Gara-gara semalam ada beberapa akun yang ngebahas soal BACA buku bahasa inggris, termasuk kak @benzbara_ , aku pun jadi mikir... iya juga ya.. bagaimana kita mau bisa pintar bahasa inggris, dan memperkaya perbendaharaan kosakata kita, kalau malas membaca??

Aku tuh termasuk dari salah satu orang yang nggak bisa bahasa inggris. Tapi aku suka bahasa inggris. Aneh kan?? Hahahaha :P

Iya, aku suka bahasa inggris. Tapi aku nggak bisa, dan nggak pintar bahasa inggris. Karena itu walaupun mau, aku tetap ogah baca buku bahasa inggris. Alasannya bukan karena nggak suka, tapi karena aku yakin.. dua tahun juga nggak bakal kelar tuh bacanya (--"), sedangkan masih banyak buku lain yang antri untuk dibaca. Seringkali aku mencoba untuk mulai membaca buku bahasa inggris, tapi dua 2-3 halaman pertama aku udah mulai malas, bosan, dan langsung tutup buku.

Masalahnya, sudah 1 jam berlalu, aku masih stuck di halaman pertama -__-

Yang ada, aku bukan fokus pada ceritanya, malah fokus bolak-balik buka kamus dan ggole translate cuma untuk mengartikan kata demi kata yang aku nggak mudeng. Ya, bosan kan jadinya?? Ngerti ceritanya kagak, puyeng iya.. Padahal aku itu baca buku pengennya supaya otak fresh, bukannya malah jadi tambah stress :p hahahha -_-

Aku bukannya nggak punya kemauan untuk membaca buku bahasa inggris. Mau! Malah sering nyoba untuk baca. Tapi, ya gitu... stuck sampai 2-3 halaman pertama :/

Tapi, kata-kata kak Bara di twitternya semalam tuh sukses bikin aku terpacu lagi. Lupa sih, dia ngomong apa aja.. yang jelas aku jadi pengen bisa namatin setidaknya SATU aja dulu deh, buku/novel bahasa inggris..huhuh. Aku suka heran, kenapa aku suka nggak ngerti novel bahasa inggris (kalimat yang digunakannya kebanyakan di luar kosakataku). Padahal gini-gini, aku termasuk yang ngerti banyak kosakata bahasa inggris loh. Walaupun aku bego bahasa inggris, tapi kalau disuruh nonton film dengan subtittle inggris, aku bisa ngerti. Aku bisa menerjemahkan, tanpa harus buka kamus atau ngintip google translate. Aku udah namatin lumayan banyak film/drama dengan sub inggris. Mulai dari film-film india, drama korea, drama jepang, drama taiwan, reality show, dan bahkan anime-anime seperti Itazura Na kiss, sailor moon, dll

Tapi, anehnya..kemampuanku itu nggak berlaku untuk novel bahasa inggris. Mungkin karena mereka menggunakan kata-kata yang belum pernah aku dengar. Dan kadang, walaupun kata itu aku pernah dengar, tetap saja aku nggak ngerti. You know.. bahasa inggris itu kan selalu punya arti bermacam-macam, apalagi kalau digabungkan dengan kata-kata lainnya, artinya bisa berubah lagi. Ckckckck.. *pijat kepala*

Dulu aku pernah dekat sama cowok asing, orang Iran. Karena dia nggak bisa bahasa Indonesia, dan aku nggak bisa bahasa Iran, jadilah kita komunikasi pakai bahasa inggris. Dia bahasa inggrisnya jago banget. Sedangkan aku nggak. Jadi, kalau aku ngomong tuh main hajar bleh aja! Hahaha. Nggak merhatiin lagi grammar dll-nya. Tapi, dia nggak ambil pusing tuh. Malah enjoy aja ngobrolnya. Dan kita malah nyambung kalau ngobrol walau pakai bahasa planet! Hahahaha

Tapi.... aku kalau ngobrol dia pakai text . Karena kalau pakai mulut.. asli.. aku cuma ketawa ngakak ajaaa. Masalahnya aku nggak ngerti dia ngomong apa, dan aku juga nggak bisa ngomong.

Aku memang bermasalah banget dalam hal listening and speaking huhuhu . Nilai aku waktu sekolah, sumpah..ancur-ancuran. Yang menolongku paling nilai writing and reading, itupun pas-pasan..hahaha

Maka itu semalam setelah terpacu oleh tweet-tweet kak Bara, aku langsung mulai belajar bahasa inggris walau masih angin-anginan. Btw.. tulisanku jelek ya! Hahahaha. Nggak usah heran, aku sendiri aja dari dulu dah heran, kok kenapa tulisanku jelek banget... (--")

Sampai-sampai kakak-kakak sepupuku suka pada bilang, "Ih.katanya penulis..tapi tulisannya kok jelek."

Bzzzzzttt... -_-

Yeee, biarin.. Kan penulis nggak ada hubungannya sama tulisan bagus atau tidak.

Pernah juga aku dengan frustasi nanya, "Kenapa ya tulisanku bisa jelek?"

Kata kakak sepupuku, "Kalau mau tulisan cantik, harus rajin nulis."

Ya ampun.. aku tuh rajin nulis bangetttt!! Dulu..

Iya, dulu, dari TK, sampai kelas 3 SMP, ya ampun sumpaahh aku tuh rajin banget menulis. Mungkin sudah ada kali berjuta lembar. Aku dulu suka bikin novel di buku (buku apa itu namanya, yang untuk tugas akuntasi/pembukuan itu). Bayangin aja.. aku nulis tuh berapa banyak?? Ckckckck...

Jadi kalau alasannya tulisanku jelek karena jarang nulis mah itu salah banget!! -__-

Yah...memang hanya misteri Tuhan kenapa tulisanku jelek.. nggak apa-apa deh. Yang penting kan, bisa dibaca :p Berarti nggak jelek-jelek amat.

*ambil tissue* *ngelap hidung yang udah meler kesana-kemari*

hiks... pedihhh hidungku... T_T

Sabtu, 24 Agustus 2013

Plagiarism Issue

Sebenarnya sudah lama aku dengar kasus ini, tentang Yuli Pritania, salah satu penulis yang 'mungkin' fenomenal' dalam dunia perfanfiction-an, memplagiat beberapa novel besar, seperti misalnya Novel-novelnya JD ROBB, Stephenie Meyer, atau Ilana Tan. Dari dulu Yuli ini memang sudah sering banet kesandung kasus memplagiat dan diplagiatin. Hanya saja dulu aku agak nutup mata sama beritanya, tidak pernah ambil pusing.

Entah kenapa kemarin, saat aku lagi browsing-browsing, mbah google berhasil membawaku ke sebuah blog, dan di sana lagi heboh dan gempar-gemparnya tentang Yuli Pritania memplagiat beberapa novel JD ROBB. Novel/fanfictionya Yuli yang judulnya 2060, katanya nyaris 85% jiplak banget sama salah satu novel JD ROBB.

Aku punya sih bukunya Yuli yang 2060, kemarin beli karena penasaran ingin baca, seperti apa sih ceritanya yang katanya hasil memplagiat novel besar itu? Sedangkan novel JD ROBB, aku nggak pernah baca, karena beberapa alasan. Aku bukan penyuka novel luar (jarang suka tepatnya), apalagi kalau tebal, dan berseri pula. Apalagi kalau genrenya scifi dan fantasy. Karena aku suka puyeng hahaha, saat Tuhan menciptakanku sepertinya otakku memang diprogram tidak bisa menerima bacaan yang berat, yang banyak istilah sulitnya.. Kecuali, khusus untuk novel TWILLIGHT SAGA, itu satu-satunya novel luar negeri, dan tebal banget, dan berseri, dan bergenre fantasy, yang aku suka dan koleksi, dan tak bosan membacanya (rancu banget deh nih kalimat).

Karena aku belum pernah baca JD ROBB, jadi mungkin aku tak berhak banget yah untuk ikut komentar? Tapi kalau sekadar beropini, nggak apa-apa kan ya? :)

Aku jujur aja, termasuk yang salut dan selalu terpesona dengan tulisan Yuli. Walau aku tidak membaca semua karyanya, tapi aku pernah ngintip-ngintip beberapa ceritanya, seperti Four Season Tale yang katanya terinspirasi dari novel-novel Ilana Tan.

Aku selalu memuji, bahwa Yuli itu punya kemampuan, dan sesungguhnya ia adalah penulis yang sangat cerdas. Ia bisa membawa pembacanya memasuki dunia imajinasinya. Dan mungkin, yang bikin aku bertekuk lutut, karena aku juga penggila Kyu. Kyu itu member favoritku di Super Junior, walau aku tak pernah mengakui diri kalau aku SparKyu. Dan di tangan Yuli, dalam goresan tangannya, ia mampu membuat Kyu menjadi sosok yang benar-benar keren dan itu sesuai banget dengan yang kuimajinasikan. Jadi, nggak salah, siapapun SparKyu di dunia ini, kalau baca tulisan Yuli, pasti akan jatuh cinta dalam sekejap. :) Diksinya sebenarnya sederhana, dan tidak tertata. Tapi, entah kenapa sangat enak dibaca dan bisa membuat para pembaca membayangi dan memahami apa maksud dari yang ditulisnya.

Masalah plagiat itu, menurutku Yuli ini termasuk tipe yang 'aku suka tulisan ini, tapi rasanya ada yang kurang'. Jadi, ia sangat terpesona pada karangan JD ROBB (misalnya), jatuh cinta dengan karakter dan jalan ceritanya, tapi merasa ada yang kurang dan salah, hingga ada dorongan dari dirinya untuk mendaur ulang cerita itu dengan versinya, hingga menjadi sempurna seperti yang ia inginkan.

Yang membingungkan, adalah, apakah itu termasuk plagiat? :)

Sebagian besar pasti bilang iya, dan sebagian lagi pasti membelanya dengan mengatakan itu hanya sekadar terinspiransi.

 Dan Yuli juga kemungkinan termasuk penulis fanfiction yang bila ia menyukai/mengagumi sebuah novel atau cerita, ia langsung terbayang bagaimana kalau karakternya juga punya cerita yang hampir serupa? Dengan kata lain, maksudku di sini bukan berniat memplagiat, tapi memang lebih terinspirasi. Karena Yuli ini tokoh pegangannya adalah Kyu-Hyena, saat dia menonton/membaca Twillight, atau cerita yang lain, ia mungkin membayangkan bagaimana kalau tokohnya juga ditempatkan dalam cerita yang sama, Kyu jadi vampire, dll... dan otaknya mulai berimajinasi dengan liar, hingga jadilah sebuah fanfiction. Iya, aku yakin Yuli itu tipe yang seperti itu. Dan biasanya, tentu hasil fanfiction itu akan beda jauh dengan Twillight. Hanya saja awal terbersit untuk menulis cerita itu memang berasal dari Twillight. Jadi, kurasa kasus ini lah yang terjadi pada novelnya yang 2060.

Saat membaca salah satu novel JD ROBB itu, otaknya pasti langsung dengan liarnya berimajinasi, bagaimana kalau Kyu-Hyena juga ceritanya begitu,, dll. Makanya novel 2060 itu memang terlihat sekilas mirip banget. Tapi sebenarnya dalam beberapa segi cerita beda. Walau tetap saja, yang penggemar novel JD ROBB pasti segera bisa menemukan beberapa kesamaan dan menuduhnya plagiat.

Kenapa aku merasa bisa memahami Yuli?

Karena aku dulu juga seorang plagiat, kalau memang harus dikatakan seperti itu :)

Aku dulu kalau baca cerita bagus, dan merasa ada yang kurang tapi aku suka bangettt, rasanya akugatal mau mendaur ulang ceritanya. Sama seperti Yuli, aku punya tokoh pegangan. Cast Utamaku di fanfiction selalu SHINee. Waktu nonton Twillight, aku langsung terinspirasi ingin membuat cerita vampire, dengan tokohnya SHINee. Jadi semua member SHINee adalah vampire, yang kemudian vampir utamanya jatuh cinta dengan manusia. Nah, intinya mirip kan kayak Twillight? :) Tapi tentu saja saat aku menulis ceritanya, hasilnya beda jauh dari Twillight. Karena aku hanya berniat terinspirasi dari ide cerita yang sudah ada, tapi aku tak ada maksud menjiplak keseluruhan ceritanya. Hanya idenya saja.

Entah lah, ini apa memang termasuk kesalahan atau tidak..aku tidak tahu. Dari dasar hatiku sebenarnya menurutku itu tidak salah. Lagipula kan hanya sekadar have fun saja. Tidak untuk diterbitkan secara legal.

Tapi aku sudah lama meningglkan hobbyku itu, karena aku tahu buat sebagian orang cara menulis seperti itu tak bisa dibenarkan :)

Dan untuk kasus Yuli Pritania itu, mungkin memang harus diadakan penyelidikan khusus dari orang yang bukan penggemar JD ROBB, dan juga bukan penggemar Yuli Pritania, yang kemudian membaca kedua novel tersebut dan bisa menilainya secara Objektif. Karena memang plagiat dan terinspirasi itu bedanya tipis banget. Terlebih kemiripan ceritanya 2060 dengan salah satu karya JD ROBB itu, adalah sebesar 85%. Itu termasuk kebanyakan untuk ukuran sekadar terinspirasi.



Sebenarnya sudah lama aku dengar kasus ini, tentang Yuli Pritania, salah satu penulis yang 'mungkin' fenomenal' dalam dunia perfanfiction-an, memplagiat beberapa novel besar, seperti misalnya Novel-novelnya JD ROBB, Stephenie Meyer, atau Ilana Tan. Dari dulu Yuli ini memang sudah sering banet kesandung kasus memplagiat dan diplagiatin. Hanya saja dulu aku agak nutup mata sama beritanya, tidak pernah ambil pusing.

Entah kenapa kemarin, saat aku lagi browsing-browsing, mbah google berhasil membawaku ke sebuah blog, dan di sana lagi heboh dan gempar-gemparnya tentang Yuli Pritania memplagiat beberapa novel JD ROBB. Novel/fanfictionya Yuli yang judulnya 2060, katanya nyaris 85% jiplak banget sama salah satu novel JD ROBB.

Aku punya sih bukunya Yuli yang 2060, kemarin beli karena penasaran ingin baca, seperti apa sih ceritanya yang katanya hasil memplagiat novel besar itu? Sedangkan novel JD ROBB, aku nggak pernah baca, karena beberapa alasan. Aku bukan penyuka novel luar (jarang suka tepatnya), apalagi kalau tebal, dan berseri pula. Apalagi kalau genrenya scifi dan fantasy. Karena aku suka puyeng hahaha, saat Tuhan menciptakanku sepertinya otakku memang diprogram tidak bisa menerima bacaan yang berat, yang banyak istilah sulitnya.. Kecuali, khusus untuk novel TWILLIGHT SAGA, itu satu-satunya novel luar negeri, dan tebal banget, dan berseri, dan bergenre fantasy, yang aku suka dan koleksi, dan tak bosan membacanya (rancu banget deh nih kalimat).

Karena aku belum pernah baca JD ROBB, jadi mungkin aku tak berhak banget yah untuk ikut komentar? Tapi kalau sekadar beropini, nggak apa-apa kan ya? :)

Aku jujur aja, termasuk yang salut dan selalu terpesona dengan tulisan Yuli. Walau aku tidak membaca semua karyanya, tapi aku pernah ngintip-ngintip beberapa ceritanya, seperti Four Season Tale yang katanya terinspirasi dari novel-novel Ilana Tan.

Aku selalu memuji, bahwa Yuli itu punya kemampuan, dan sesungguhnya ia adalah penulis yang sangat cerdas. Ia bisa membawa pembacanya memasuki dunia imajinasinya. Dan mungkin, yang bikin aku bertekuk lutut, karena aku juga penggila Kyu. Kyu itu member favoritku di Super Junior, walau aku tak pernah mengakui diri kalau aku SparKyu. Dan di tangan Yuli, dalam goresan tangannya, ia mampu membuat Kyu menjadi sosok yang benar-benar keren dan itu sesuai banget dengan yang kuimajinasikan. Jadi, nggak salah, siapapun SparKyu di dunia ini, kalau baca tulisan Yuli, pasti akan jatuh cinta dalam sekejap. :) Diksinya sebenarnya sederhana, dan tidak tertata. Tapi, entah kenapa sangat enak dibaca dan bisa membuat para pembaca membayangi dan memahami apa maksud dari yang ditulisnya.

Masalah plagiat itu, menurutku Yuli ini termasuk tipe yang 'aku suka tulisan ini, tapi rasanya ada yang kurang'. Jadi, ia sangat terpesona pada karangan JD ROBB (misalnya), jatuh cinta dengan karakter dan jalan ceritanya, tapi merasa ada yang kurang dan salah, hingga ada dorongan dari dirinya untuk mendaur ulang cerita itu dengan versinya, hingga menjadi sempurna seperti yang ia inginkan.

Yang membingungkan, adalah, apakah itu termasuk plagiat? :)

Sebagian besar pasti bilang iya, dan sebagian lagi pasti membelanya dengan mengatakan itu hanya sekadar terinspiransi.

 Dan Yuli juga kemungkinan termasuk penulis fanfiction yang bila ia menyukai/mengagumi sebuah novel atau cerita, ia langsung terbayang bagaimana kalau karakternya juga punya cerita yang hampir serupa? Dengan kata lain, maksudku di sini bukan berniat memplagiat, tapi memang lebih terinspirasi. Karena Yuli ini tokoh pegangannya adalah Kyu-Hyena, saat dia menonton/membaca Twillight, atau cerita yang lain, ia mungkin membayangkan bagaimana kalau tokohnya juga ditempatkan dalam cerita yang sama, Kyu jadi vampire, dll... dan otaknya mulai berimajinasi dengan liar, hingga jadilah sebuah fanfiction. Iya, aku yakin Yuli itu tipe yang seperti itu. Dan biasanya, tentu hasil fanfiction itu akan beda jauh dengan Twillight. Hanya saja awal terbersit untuk menulis cerita itu memang berasal dari Twillight. Jadi, kurasa kasus ini lah yang terjadi pada novelnya yang 2060.

Saat membaca salah satu novel JD ROBB itu, otaknya pasti langsung dengan liarnya berimajinasi, bagaimana kalau Kyu-Hyena juga ceritanya begitu,, dll. Makanya novel 2060 itu memang terlihat sekilas mirip banget. Tapi sebenarnya dalam beberapa segi cerita beda. Walau tetap saja, yang penggemar novel JD ROBB pasti segera bisa menemukan beberapa kesamaan dan menuduhnya plagiat.

Kenapa aku merasa bisa memahami Yuli?

Karena aku dulu juga seorang plagiat, kalau memang harus dikatakan seperti itu :)

Aku dulu kalau baca cerita bagus, dan merasa ada yang kurang tapi aku suka bangettt, rasanya akugatal mau mendaur ulang ceritanya. Sama seperti Yuli, aku punya tokoh pegangan. Cast Utamaku di fanfiction selalu SHINee. Waktu nonton Twillight, aku langsung terinspirasi ingin membuat cerita vampire, dengan tokohnya SHINee. Jadi semua member SHINee adalah vampire, yang kemudian vampir utamanya jatuh cinta dengan manusia. Nah, intinya mirip kan kayak Twillight? :) Tapi tentu saja saat aku menulis ceritanya, hasilnya beda jauh dari Twillight. Karena aku hanya berniat terinspirasi dari ide cerita yang sudah ada, tapi aku tak ada maksud menjiplak keseluruhan ceritanya. Hanya idenya saja.

Entah lah, ini apa memang termasuk kesalahan atau tidak..aku tidak tahu. Dari dasar hatiku sebenarnya menurutku itu tidak salah. Lagipula kan hanya sekadar have fun saja. Tidak untuk diterbitkan secara legal.

Tapi aku sudah lama meningglkan hobbyku itu, karena aku tahu buat sebagian orang cara menulis seperti itu tak bisa dibenarkan :)

Dan untuk kasus Yuli Pritania itu, mungkin memang harus diadakan penyelidikan khusus dari orang yang bukan penggemar JD ROBB, dan juga bukan penggemar Yuli Pritania, yang kemudian membaca kedua novel tersebut dan bisa menilainya secara Objektif. Karena memang plagiat dan terinspirasi itu bedanya tipis banget. Terlebih kemiripan ceritanya 2060 dengan salah satu karya JD ROBB itu, adalah sebesar 85%. Itu termasuk kebanyakan untuk ukuran sekadar terinspirasi.



Minggu, 18 Agustus 2013

Aku Memang bukan Untukmu...

Dahulu kau mencintaiku..
 Dahulu kau menginginkanku..
 Meskipun takkan pernah ada jawabku..
Tak berniat kau tinggalkan aku..

 Sekarang kau pergi menjauh
 Sekarang kau tinggalkan aku 
Disaat ku mulai mengharapkanmu 
Dan ku mohon maafkan aku

Aku menyesal t'lah membuatmu menangis 
Dan biarkan memilih yang lain
 Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu 
Pasti itu terbaik untukmu

Janganlah lagi kau mengingatku kembali 
Aku bukanlah untukmu 
Meski ku memohon dan meminta hatimu 
Jangan pernah tinggalkan dirinya..


Malam ini kegalauanku mungkin disponsori oleh lagu ini.

Mungkin banyak yang mengira aku hanya sekadar galau... tapi sebenarnya tidak Aku benar-benar galau karena lagu ini.

Awalnya lagu ini terputar dengan secara tidak sengaja saat aku hendak memutar playlist kumpulan lagu Bollywood di laptop. Ternyata ada terselip lagu ini. Aku sempat tersentak saat alunan nada lagu ini mulai terdengar, tapi tak kuasa menghentikannya. Karena aku terlalu fokus pada apa yang terjadi setahun an yang lalu, pada sosok yang mungkin telah melupakanku dan menghapusku dalam ingatannya... maybe.

Aku benar-benar tak bisa menghentikan ini semua. Bait demi bait dari lagu ini, justru semakin membawaku ke arus masa lalu dan mengikatku sesaat di sana. Mungkin itu lah yang membuatku jadi rada mewek. Rasanya ini bukan perasaan cinta, tapi aku juga nggak tahu apa. Yang jelas ada rasa penyesalan yang masih tersisa, yang tetap selalu membayangiku kalau mengingatnya.

Ia pernah mencintaiku. Sangat.
Ia pernah menyayangiku. Tulus.
Ia selalu ada untukku. Kapanpun di waktu luangnya.
Ia menerimaku apa adanya. Bahkan termasuk kenyataan bahwa aku tak bisa mencintainya,

Ia yang terbaik. Dari semua lelaki yang mungkin pernah aku kenal dan cukup berarti.

Ia lelaki sederhana. Nggak neko-neko, dan nggak pernah menyombongkan diri. Perkerjaannya hanyalah di warnet. Ia tak kuliah. Tapi ia cerdas. Aku terpikat dalam segala kesederhanaannya, walau hanya sebatas itu. Hanya terpikat. Tak lebih.

Ia mendengarkanku. Selalu. 
Terkadang kala jahilnya datang, ia menggodaku, dan hanya aku. Ia bersikap seperti itu hanya padaku. Ia tak pernah dekat dengan perempuan, karena tak pandai bertutur. 

Saat aku berbohong, dan mengakuinya, ia tak marah. Ia tersenyum dan berkata lembut, "it's okay."
 Saat itu aku bertanya, "Apa kau masih mencintaiku? Padahal aku sudah pernah membohongimu."
"Ya, perasaanku tidak berubah hanya karena hal seperti itu. Dan aku tahu kau punya alasan saat melakukannya. Aku justru senang karena kau mulai terbuka padaku. just to know, I love you just the way you are.."

Menyentuhku. Kata-katanya sangat menyentuhku saat itu. Aku nyaris menitikkan airmata, bukan hanya karena terharu, tapi juga sedih.. karena aku masih saja tetap tak bisa mencintainya.

Kedekatan kami masih terus berlangsung, walau tak ada status pacaran, karena aku tak kunjung mengiyakan. Tapi ia tak pernah bosan menyelipkan kata-kata so sweet seperti I love you, di tiap sela obrolan kami..

Kadangkala ia menyempatkan menelponku. Dan aku sering merajuk kalau ia tanpa sadar cerita tentang seorang perempuan dengan nada memuji. Kalau sudah begitu, ia selalu tertawa dan menggodaku dengan sangat puas, karena dari nada suaraku dan reaksiku sangat terlihat jelas kalau aku cemburu. Terhitung dari hari itu, ia akhirnya menjadikan itu kelemahanku, dan selalu dengan sengaja melakukannya hanya untuk membuatku kesal...hm.. or jealous

"Kau sangat lucu saat cemburu. It's sweet, and  I love it!!" ia tertawa dengan sangat puas, dan lega *?*

Di akhir tahun 2012, sekitar bulan Agustus, aku mengenal seorang lelaki.. dan yeah, aku mencintainya. Ehm, entahlah.. aku masih bingung mengartikan apa itu cinta, dan seperti apa sebenarnya. Tapi, yang jelas, aku punya perasaan khusus. Laki-laki ini bisa membuatku deg-degan, bahkan walau hanya sekadar ngobrol via text. Laki-laki ini, bisa membuatku bersemu merah, atau bahkan melonjak-lonjak girang, hanya dengan sedikit perkataan dan perlakuannya yang menurutku sweet and nice.Laki-laki ini, bahkan bisa membuatku lupa segalanya. Seakan cukup ada dia saja, aku merasa tak membutuhkan yang lain di dunia untuk sementara waktu. Dia sangat mencuriku. Mencuriku dari dunia, membuatku seakan harus menciptakan dunia sendiri yang ada hanya dia dan aku. Aku selalu suka mendengar ceritanya, dan selalu ingin mendengar segala tentangnya. Keluarganya, perkerjaannya, kegiatannya, dan bahkan masa lalunya (walau itu menyakitkanku). Sehari saja tak melihatnya, aku gelisah, dan sangat merindukannya. Hingga aku berpikir, cukup dengan tahu dia ada saja, aku akan sangat puas dan lega. Jadi, aku sering memohon agar semesta berkonspirasi untuk memberikanku tanda bahwa dia hidup. Jantugnya masih berdetak.

Semua itu hal yang tak pernah kurasakan saat bersama si 'aku bukan untukmu'. Membuatku semakin yakin dan mantap, bahwa aku memang bukan untuknya, dan dia bukan untukku. Aku mulai menjaga jarak, kemudian menghindar, memperkecil jaringan contact kami, menutup hampir semua akses agar ia tak lagi sering-sering menghubungiku.

Berkali-kali ia mengirimkan pesan, "Hi, how are you?"
"Kenapa kau tidak pernah membalas atau menghubungiku? Kau ada masalah? Atau sakit?"
"Are u angry with me?"
"Hai.. please, jangan membuatku cemas. Kau baik-baik saja kan?"
"Apa kabar? Sedang apa? Aku harap kau baik-baik saja. Jangan membuatku takut."

Dan pesan-pesan serupa lainnya yang membuatku miris, dan juga ingin menangis. Kenapa ia malah mencemaskanku padahal aku sudah sangat jahat padanya? :(

Aku ingat, aku sempat memberikan pesan padanya yang mungkin terdengar cukup dingin, "Maaf, bukannya tak mau membalas pesanmu, hanya saja tidak ada pulsa. Dan lagi aku sedang sibuk, karena mau ujian praktikum dan laporan menumpuk. Aku tidak akan sempat mengurusi hal-hal sepele seperti ini. Jadi, maaf."

"Dan mungkin untuk sementara waktu aku tidak bisa merespon segala contact darimu. Maafkan. Tapi aku akan menyempatkan diri menghubungimu kalau ada waktu luang."

Dan sejak itu aku benar-benar menutup hampir semua akses yang ia bisa jangkau. Sejak itu tak pernah lagi terdengar kabarnya. Dan ia sepertinya menuruti permintaanku, dan mungkin saj ia menangkap usiran halus dariku.. :( Karena dia sangat memahamiku selama ini, jadi aku yakin ia bisa menangkapnya dengan baik/// :(

Dalam beberapa kesempatan, kadang aku membuka profil Facebooknya... dan... sangat persis dengan yang tidak kuharapkan. Bunyi-bunyi statusnya.. menyakitkan.. pilu.. menyedihkan.. :'(

 Aneh, biasanya aku selalu il feel sama lelaki yang suka galau di socmed. Menurutku cengeng, dan seakan tak punya tujuan hidup. Tapi kali ini, justru aku merasa sangat bersalah. Dapat dari info terpercaya, ia bahkan sempat mabuk saat ada undangan pesta pernikahan temannya. Dia tak pernah minum padahal, (pernah, tapi duluuu beberapa kali doang saat SMA, dan beralasan), sekarang tahu-tahu mabuk berat. Padahal ia pernah berjanji padaku, tak akan mau minum lagi sepelik apapun masalah hidup yang ia hadapin... 

Saat itu lah mataku benar-benar terbuka, betapa ia yang terbaik dari segala lelaki yang pernah aku kenal. Tak pernah complain atas segala sikapku, menerimaku dan keluargaku apa adanya, selalu mau mendengar keluhanku,memujiku bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tak pantas dipuji, ....dan masih banyak lagi. Di mataku ia tak ada cacatnya.. Ia yang terbaik... :'(

Sedikitpun tak pernah melakukan hal yang mengecewakanku. Tak pernah menyakitiku. Membuatku menangisdengan secara sengaja pun tidak.. Ia selalu melakukan yang terbaik. Menghindari hal-hal yang tak kusuka.. Dan yang terpenting buat ia adalah aku senang dan tertawa. Ia akan melakukan apapun, termasuk rela mendengarkan omelan dan keluh kesahku, padahal ia punya masalah tersendiri dan tentunya juga mau didengarkan. 

Aku pernah akhir tahun kemarin mencoba untuk memperbaiki hal-hal yag telah kurusak. Aku menelponnya, tak diangkat. YMnya juga sudah tak pernah ON lagi. Akhirnya aku hubungin lewat facebook, yang untungnya masih berteman. Aku tanya kabarnya, dan menanyakan kenapa YMnya tak pernah ON lagi. Kenapa tak pernah menghubungiku lagi? Namun jawabannya, "Maaf. Aku sibuk. Tak sempat..banyak kerjaan."

Dingin.

Sudah cukup lama aku bersua dengannya, jadi aku sangat tahu ada yang berbeda dari kalimatnya. Ia benar-benar sangat dingin padaku, dan tentunya... marah..

Sejak itu aku tak pernah lagi coba menghubunginya, walau facebooknya kadang berseliweran di berandaku. Aku itu sangat sadar diri, bagaimanapun aku yang memang salah dan sangat jahat.. jadi tak pantas untuk menginginkannya kembali menjadi yang dulu, yang selalu ada buatku, yang mencintaiku, menyayangiku...dsb..

Lama-lama aku lihat ia mulai dekat dengan seorang gadis. Gadis yang sepertinya sudah lama menyukainya (sejak SMP kalau tidak salah), tapi bertepuk sebelah tangan, karena ia tidak menyukai gadis itu. Ia pernah menceritakan tentang gadis itu padaku dulu, lengkap dari A-Z, dan alasan-alasan kenapa tidak menyukainya. Kalau aku tak salah ingat sih.. gadis itu pernah 'berbohong' atau sejenisnya, dan ia tak suka kebohongan. (Walau untuk kasusku ia sepertinya memberikan dispensasi).

Kalau aku lihat dari interaksi mereka di facebook, ia sepertinya mencoba memberikan kesempatan pada waktu untuk mengenal gadis itu lebih dalam dan lebih dekat. Itu yang kutangkap. Terlihat jelas juga gadis itu sangat senang (tentu saja, ia sudah lama bertepuk sebelah tangan).

Jadi, setelah semua itu... aku semakin sadar dan mantap... aku tak layak untuk memintanya menjadikan kami sperti yang dulu lagi. Semua telah berubah, dan itu berawal dikarenakan sikapku. 
  
Benar-benar persis, seperti "Aku bukan Untukmu" kan? :'(
 Tak salah aku sangat galau saat mendengar lagu ini... tiap bait katanya sangat begitu tepat menusukku. Benar-benar mengingatkanku pada perasaan luka itu.

Sebenarnya aku masih belum mencintainya seperti arti mencintai sebenarnya. Hanya saja, ada perasaan menyesal telah menyia-nyiakan laki-laki sebaik dia, yang mungkin tak akan bisa kutemukan untuk dalam jangka waktu yang tak bisa kupastikan..

Tapi yah, mungkin inilah yang namanya bukan jodoh. Ini sudah pertanda, ia memang bukan untukku, dan aku bukan untuk dia.. Dia lebih layak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku, yang tentunya sangat mencintainya. Dan aku? Aku yakin.. Tuhan telah menciptakan seseorang untukku yang entah terlahir di belahan dunia mana.. :')

  
 

Aku menyesal t'lah membuatmu menangis  
Dan biarkan memilih yang lain
 Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu 
Pasti itu terbaik untukmu..

Meski ku memohon dan meminta hatimu 
Jangan pernah tinggalkan dirinya 
Untuk diriku..

Dahulu kau mencintaiku..
 Dahulu kau menginginkanku..
 Meskipun takkan pernah ada jawabku..
Tak berniat kau tinggalkan aku..

 Sekarang kau pergi menjauh
 Sekarang kau tinggalkan aku 
Disaat ku mulai mengharapkanmu 
Dan ku mohon maafkan aku

Aku menyesal t'lah membuatmu menangis 
Dan biarkan memilih yang lain
 Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu 
Pasti itu terbaik untukmu

Janganlah lagi kau mengingatku kembali 
Aku bukanlah untukmu 
Meski ku memohon dan meminta hatimu 
Jangan pernah tinggalkan dirinya..


Malam ini kegalauanku mungkin disponsori oleh lagu ini.

Mungkin banyak yang mengira aku hanya sekadar galau... tapi sebenarnya tidak Aku benar-benar galau karena lagu ini.

Awalnya lagu ini terputar dengan secara tidak sengaja saat aku hendak memutar playlist kumpulan lagu Bollywood di laptop. Ternyata ada terselip lagu ini. Aku sempat tersentak saat alunan nada lagu ini mulai terdengar, tapi tak kuasa menghentikannya. Karena aku terlalu fokus pada apa yang terjadi setahun an yang lalu, pada sosok yang mungkin telah melupakanku dan menghapusku dalam ingatannya... maybe.

Aku benar-benar tak bisa menghentikan ini semua. Bait demi bait dari lagu ini, justru semakin membawaku ke arus masa lalu dan mengikatku sesaat di sana. Mungkin itu lah yang membuatku jadi rada mewek. Rasanya ini bukan perasaan cinta, tapi aku juga nggak tahu apa. Yang jelas ada rasa penyesalan yang masih tersisa, yang tetap selalu membayangiku kalau mengingatnya.

Ia pernah mencintaiku. Sangat.
Ia pernah menyayangiku. Tulus.
Ia selalu ada untukku. Kapanpun di waktu luangnya.
Ia menerimaku apa adanya. Bahkan termasuk kenyataan bahwa aku tak bisa mencintainya,

Ia yang terbaik. Dari semua lelaki yang mungkin pernah aku kenal dan cukup berarti.

Ia lelaki sederhana. Nggak neko-neko, dan nggak pernah menyombongkan diri. Perkerjaannya hanyalah di warnet. Ia tak kuliah. Tapi ia cerdas. Aku terpikat dalam segala kesederhanaannya, walau hanya sebatas itu. Hanya terpikat. Tak lebih.

Ia mendengarkanku. Selalu. 
Terkadang kala jahilnya datang, ia menggodaku, dan hanya aku. Ia bersikap seperti itu hanya padaku. Ia tak pernah dekat dengan perempuan, karena tak pandai bertutur. 

Saat aku berbohong, dan mengakuinya, ia tak marah. Ia tersenyum dan berkata lembut, "it's okay."
 Saat itu aku bertanya, "Apa kau masih mencintaiku? Padahal aku sudah pernah membohongimu."
"Ya, perasaanku tidak berubah hanya karena hal seperti itu. Dan aku tahu kau punya alasan saat melakukannya. Aku justru senang karena kau mulai terbuka padaku. just to know, I love you just the way you are.."

Menyentuhku. Kata-katanya sangat menyentuhku saat itu. Aku nyaris menitikkan airmata, bukan hanya karena terharu, tapi juga sedih.. karena aku masih saja tetap tak bisa mencintainya.

Kedekatan kami masih terus berlangsung, walau tak ada status pacaran, karena aku tak kunjung mengiyakan. Tapi ia tak pernah bosan menyelipkan kata-kata so sweet seperti I love you, di tiap sela obrolan kami..

Kadangkala ia menyempatkan menelponku. Dan aku sering merajuk kalau ia tanpa sadar cerita tentang seorang perempuan dengan nada memuji. Kalau sudah begitu, ia selalu tertawa dan menggodaku dengan sangat puas, karena dari nada suaraku dan reaksiku sangat terlihat jelas kalau aku cemburu. Terhitung dari hari itu, ia akhirnya menjadikan itu kelemahanku, dan selalu dengan sengaja melakukannya hanya untuk membuatku kesal...hm.. or jealous

"Kau sangat lucu saat cemburu. It's sweet, and  I love it!!" ia tertawa dengan sangat puas, dan lega *?*

Di akhir tahun 2012, sekitar bulan Agustus, aku mengenal seorang lelaki.. dan yeah, aku mencintainya. Ehm, entahlah.. aku masih bingung mengartikan apa itu cinta, dan seperti apa sebenarnya. Tapi, yang jelas, aku punya perasaan khusus. Laki-laki ini bisa membuatku deg-degan, bahkan walau hanya sekadar ngobrol via text. Laki-laki ini, bisa membuatku bersemu merah, atau bahkan melonjak-lonjak girang, hanya dengan sedikit perkataan dan perlakuannya yang menurutku sweet and nice.Laki-laki ini, bahkan bisa membuatku lupa segalanya. Seakan cukup ada dia saja, aku merasa tak membutuhkan yang lain di dunia untuk sementara waktu. Dia sangat mencuriku. Mencuriku dari dunia, membuatku seakan harus menciptakan dunia sendiri yang ada hanya dia dan aku. Aku selalu suka mendengar ceritanya, dan selalu ingin mendengar segala tentangnya. Keluarganya, perkerjaannya, kegiatannya, dan bahkan masa lalunya (walau itu menyakitkanku). Sehari saja tak melihatnya, aku gelisah, dan sangat merindukannya. Hingga aku berpikir, cukup dengan tahu dia ada saja, aku akan sangat puas dan lega. Jadi, aku sering memohon agar semesta berkonspirasi untuk memberikanku tanda bahwa dia hidup. Jantugnya masih berdetak.

Semua itu hal yang tak pernah kurasakan saat bersama si 'aku bukan untukmu'. Membuatku semakin yakin dan mantap, bahwa aku memang bukan untuknya, dan dia bukan untukku. Aku mulai menjaga jarak, kemudian menghindar, memperkecil jaringan contact kami, menutup hampir semua akses agar ia tak lagi sering-sering menghubungiku.

Berkali-kali ia mengirimkan pesan, "Hi, how are you?"
"Kenapa kau tidak pernah membalas atau menghubungiku? Kau ada masalah? Atau sakit?"
"Are u angry with me?"
"Hai.. please, jangan membuatku cemas. Kau baik-baik saja kan?"
"Apa kabar? Sedang apa? Aku harap kau baik-baik saja. Jangan membuatku takut."

Dan pesan-pesan serupa lainnya yang membuatku miris, dan juga ingin menangis. Kenapa ia malah mencemaskanku padahal aku sudah sangat jahat padanya? :(

Aku ingat, aku sempat memberikan pesan padanya yang mungkin terdengar cukup dingin, "Maaf, bukannya tak mau membalas pesanmu, hanya saja tidak ada pulsa. Dan lagi aku sedang sibuk, karena mau ujian praktikum dan laporan menumpuk. Aku tidak akan sempat mengurusi hal-hal sepele seperti ini. Jadi, maaf."

"Dan mungkin untuk sementara waktu aku tidak bisa merespon segala contact darimu. Maafkan. Tapi aku akan menyempatkan diri menghubungimu kalau ada waktu luang."

Dan sejak itu aku benar-benar menutup hampir semua akses yang ia bisa jangkau. Sejak itu tak pernah lagi terdengar kabarnya. Dan ia sepertinya menuruti permintaanku, dan mungkin saj ia menangkap usiran halus dariku.. :( Karena dia sangat memahamiku selama ini, jadi aku yakin ia bisa menangkapnya dengan baik/// :(

Dalam beberapa kesempatan, kadang aku membuka profil Facebooknya... dan... sangat persis dengan yang tidak kuharapkan. Bunyi-bunyi statusnya.. menyakitkan.. pilu.. menyedihkan.. :'(

 Aneh, biasanya aku selalu il feel sama lelaki yang suka galau di socmed. Menurutku cengeng, dan seakan tak punya tujuan hidup. Tapi kali ini, justru aku merasa sangat bersalah. Dapat dari info terpercaya, ia bahkan sempat mabuk saat ada undangan pesta pernikahan temannya. Dia tak pernah minum padahal, (pernah, tapi duluuu beberapa kali doang saat SMA, dan beralasan), sekarang tahu-tahu mabuk berat. Padahal ia pernah berjanji padaku, tak akan mau minum lagi sepelik apapun masalah hidup yang ia hadapin... 

Saat itu lah mataku benar-benar terbuka, betapa ia yang terbaik dari segala lelaki yang pernah aku kenal. Tak pernah complain atas segala sikapku, menerimaku dan keluargaku apa adanya, selalu mau mendengar keluhanku,memujiku bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tak pantas dipuji, ....dan masih banyak lagi. Di mataku ia tak ada cacatnya.. Ia yang terbaik... :'(

Sedikitpun tak pernah melakukan hal yang mengecewakanku. Tak pernah menyakitiku. Membuatku menangisdengan secara sengaja pun tidak.. Ia selalu melakukan yang terbaik. Menghindari hal-hal yang tak kusuka.. Dan yang terpenting buat ia adalah aku senang dan tertawa. Ia akan melakukan apapun, termasuk rela mendengarkan omelan dan keluh kesahku, padahal ia punya masalah tersendiri dan tentunya juga mau didengarkan. 

Aku pernah akhir tahun kemarin mencoba untuk memperbaiki hal-hal yag telah kurusak. Aku menelponnya, tak diangkat. YMnya juga sudah tak pernah ON lagi. Akhirnya aku hubungin lewat facebook, yang untungnya masih berteman. Aku tanya kabarnya, dan menanyakan kenapa YMnya tak pernah ON lagi. Kenapa tak pernah menghubungiku lagi? Namun jawabannya, "Maaf. Aku sibuk. Tak sempat..banyak kerjaan."

Dingin.

Sudah cukup lama aku bersua dengannya, jadi aku sangat tahu ada yang berbeda dari kalimatnya. Ia benar-benar sangat dingin padaku, dan tentunya... marah..

Sejak itu aku tak pernah lagi coba menghubunginya, walau facebooknya kadang berseliweran di berandaku. Aku itu sangat sadar diri, bagaimanapun aku yang memang salah dan sangat jahat.. jadi tak pantas untuk menginginkannya kembali menjadi yang dulu, yang selalu ada buatku, yang mencintaiku, menyayangiku...dsb..

Lama-lama aku lihat ia mulai dekat dengan seorang gadis. Gadis yang sepertinya sudah lama menyukainya (sejak SMP kalau tidak salah), tapi bertepuk sebelah tangan, karena ia tidak menyukai gadis itu. Ia pernah menceritakan tentang gadis itu padaku dulu, lengkap dari A-Z, dan alasan-alasan kenapa tidak menyukainya. Kalau aku tak salah ingat sih.. gadis itu pernah 'berbohong' atau sejenisnya, dan ia tak suka kebohongan. (Walau untuk kasusku ia sepertinya memberikan dispensasi).

Kalau aku lihat dari interaksi mereka di facebook, ia sepertinya mencoba memberikan kesempatan pada waktu untuk mengenal gadis itu lebih dalam dan lebih dekat. Itu yang kutangkap. Terlihat jelas juga gadis itu sangat senang (tentu saja, ia sudah lama bertepuk sebelah tangan).

Jadi, setelah semua itu... aku semakin sadar dan mantap... aku tak layak untuk memintanya menjadikan kami sperti yang dulu lagi. Semua telah berubah, dan itu berawal dikarenakan sikapku. 
  
Benar-benar persis, seperti "Aku bukan Untukmu" kan? :'(
 Tak salah aku sangat galau saat mendengar lagu ini... tiap bait katanya sangat begitu tepat menusukku. Benar-benar mengingatkanku pada perasaan luka itu.

Sebenarnya aku masih belum mencintainya seperti arti mencintai sebenarnya. Hanya saja, ada perasaan menyesal telah menyia-nyiakan laki-laki sebaik dia, yang mungkin tak akan bisa kutemukan untuk dalam jangka waktu yang tak bisa kupastikan..

Tapi yah, mungkin inilah yang namanya bukan jodoh. Ini sudah pertanda, ia memang bukan untukku, dan aku bukan untuk dia.. Dia lebih layak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku, yang tentunya sangat mencintainya. Dan aku? Aku yakin.. Tuhan telah menciptakan seseorang untukku yang entah terlahir di belahan dunia mana.. :')

  
 

Aku menyesal t'lah membuatmu menangis  
Dan biarkan memilih yang lain
 Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu 
Pasti itu terbaik untukmu..

Meski ku memohon dan meminta hatimu 
Jangan pernah tinggalkan dirinya 
Untuk diriku..

Jumat, 16 Agustus 2013

Please, Stay Away..

Benar-benar nggak ngerti dengan diriku sendiri.

Mungkin memang benar kalau ada yang bilang Libra itu egois. 

Aku orangnya egois loh. Termasuk dalam percintaan.

Saat mencintai seseorang, aku pun tentunya ingin balas dicintai. Minimal, setidaknya orang itu menghargai perasaanku, dengan cara tidak menjauhiku walau dia tahu bentuk perasaan seperti apa yang aku punya untuknya.

Tapi, kebalikan... saat ada yang mencintaiku, aku selalu berbalik menjauhinya dengan cenderung bersikap dingin..

Aku juga sebenarnya tak pernah mau melakukan hal itu. Sering kali aku menyesalinya. But, I can't help myself...  Itu terjadi begitu saja di luar kendali. Berapa kali aku mewanti diriku untuk tetap beritikad baik dengan siapapun itu yang mencintaiku. Aku harus menghargai mereka. Tapi... yah, begitu lah.

Semalam terjadi lagi.

Belakangan ini memang ada beberapa orang di sekitar rumah yang cenderung mendekatiku. Salah satunya dia. Dia di sini adalah, dia yang akan menjadi issue utama di postingan ini. Pertama kali mengenalnya saat tengah malam aku keluar rumah, untuk cari makanan, minimal indomie. Iya, waktu itu aku kena kasus kelaparan tengah malam, dan ternyata stok indomie di rumah udah habis. Mengingat waktu itu sudah jam 11-an malam kalau nggak salah, aku nekat saja cari makan keluar. Tapi ya nggak nemuin apa-apa... (ya iya lahhh --")

Aku mampir ke warung 24 jam yang tidak jauh dari rumah. Bukan warung sih, tapi itu semacam warnet, cuma ada jual makanan juga. Aku lihat di sana ada satu lemari berisi indomie dan telur. Kupikir bisa dibeli per bungkus, ternyata nggak.. harus makan di sana. Mana mahal lagi --". Makan Indomie goreng pakai nasi aja 8000, brooo! 

Ngapain makan di situ, kemahalan... Dengan niat 'ah besok aja deh beli indomie. Laparnya ditahan aja, dibawa tidur. Atau nggak bikin nasi goreng kepepet aja', aku keluar dari warung itu. Lha, ada cowok yang daritadi nongkrong di atas motor di parkiran, ternyata ngelihatin interaksiku dengan si pemilik warnet. Aku sadar sih daritadi diperhatikan oleh dia, tapi ya namanya aja aku, nggak pernah ambil pusing. Nggak kenal gini. 

Dia senyum nyapa aku, pas aku lewat. Ya aku balas senyum aja. Trus dia nunjuk ke arah lurus sambil bilang, "Di sana ada yang jual indomi. Warungnya buka 24 jam."

Aku mengangguk, sambil senyum kikuk. "Oh iya, makasih.." Dalam hati sih, udah nggak ada niat mau beli sama sekali. Udah mau pulang, mau bobok aja. Eh dia nya berdiri dari motor, dan nawarin mengantarakan aku.

 "Yuk.."

Walau bengong, nggak tahu kenapa nih kaki nurut aja ngikutin langkah dia. Haddeh (--" ).

Dia senyum lagi. "Nggak apa-apa ya jalan kaki aja, nggak pakai motor."

"Iya, nggak apa-apa, kok." Aku senyum aja, dengan banyak pemikiran di kepala. Aku masih bingung, sebenarnya kenapa juga tadi aku mau-mau aja digiring sama dia...hhhh...

Kita akhirnya jalan dampingan, dan ngobrol. Tepatnya sih, dia nanya, aku jawab. Orangnya ramah sih, baik, lembut... Banyak nanya juga -.-

Singkat kata, begitu dah sampai warung yg dimaksud, aku beli deh 20 bungkus Indomie. Niatnya sih setelah itu mau ngucapin makasih, terus pamit pulang. Eh, dianya malah bantu ngebawain tas belanjaku -.- Mau nolak halus gimana juga udah nggak bisa. Ya udah... kita pulang. Maksudnya, aku pulang ke rumah, dia ngantarin sambil bawa belanjaanku. Sepanjang jalan ya ngobrol lagi. Dia tanya-tanya, aku jawab..

Sejak itu, tiap aku keluar rumah jam segitu pastiii ada dia nyamperin ,hiks.. Akunya yang awalnya senang karena dia baik, ramah, dlll jadinya risih... karena semakin ke sini makin kelihatan pedekate nya. Dan aku secara otomatis menjaga jarak (kebiasaan). Mulai yang kalau ketemu dia buru-buru pamit dengan berbagai alasan, pokoknya terkesan menghindar. Nggak enak sih iya.. tapi mau gimana....

Aku nggak suka sama dia, nggak ada perasaan apa-apa..

Maunya sih tetap berteman... tapi gimana, kalau aku makin baik, yang ada kayak ngasih harapan. Dia mikirnya, aku ngasih kesempatan buat dia mengenalkan dirinya ke aku lebih jauh. Kalau saja tadinya dia bersikap 'biasa' aja ke aku, aku pastinya bakal senang hati bersikap biasa aja ke dia. Tapi ini? Apa kah KEBETULAN setiap aku belanja di warung langgananku, dia nongol? Iya, kalau dia juga belanja di warung itu sih bisa aja kebetulan. Lha ini nggak, dia sama sekali nggak belanja apa-apa, cuma ngajak aku ngobrol 'ramah', .... tetap saja rasanya 'aneh' -_- dan aku nggak suka. Karena itu sudah jelas berarti dia memang sengaja hanya mau mau bertemu aku dan ngobrol..

Intinya sih, aku nggak terlalu suka kalau dideketin sampai segitunya. Kesannya kayak diteror tau nggak, dimana-mana ketemu dia. Jadi nggak bebas aja rasanya mau kemana-mana. Memang, dia nggak pernah melakukan hal aneh. Malah dia itu baik. Tapi aku nggak nyaman dengan kondisi seperti itu.

Puncaknya kemarin, seperti biasa saat aku pulang ke rumah, dia nya 'kebetulan' ada di dekat rumah ku, langsung nyamperin. Aku buru-buru pamit, "duluan." Dan langsung masuk ke rumah. Jahat? Mungkin... tapi aku nggak bermaksud buruk juga.

Dan tadi, saat aku ke Alfamart untuk beli sabun dan perlengkapan lainnya, lagi-lagi pas pulang di jalan ada dia. Untungnya lagi bersebrangan, dia di ujung, aku diujung. Saat dia manggil-manggil namaku, aku terus aja jalan kayak orang budeg dan muka datar. Jahat?

Hmm... apapun itu pandangannya, yang jelas aku nggak pernah maksud buruk. Sorry.

Dan lagi, aku sudah memperingatinya kan dari awal... please, stay away from me.. keep your distance, karena aku bagaimanapun nggak akan pernah tertarik untuk menjalin hubungan lebih dari sekadar teman.


Benar-benar nggak ngerti dengan diriku sendiri.

Mungkin memang benar kalau ada yang bilang Libra itu egois. 

Aku orangnya egois loh. Termasuk dalam percintaan.

Saat mencintai seseorang, aku pun tentunya ingin balas dicintai. Minimal, setidaknya orang itu menghargai perasaanku, dengan cara tidak menjauhiku walau dia tahu bentuk perasaan seperti apa yang aku punya untuknya.

Tapi, kebalikan... saat ada yang mencintaiku, aku selalu berbalik menjauhinya dengan cenderung bersikap dingin..

Aku juga sebenarnya tak pernah mau melakukan hal itu. Sering kali aku menyesalinya. But, I can't help myself...  Itu terjadi begitu saja di luar kendali. Berapa kali aku mewanti diriku untuk tetap beritikad baik dengan siapapun itu yang mencintaiku. Aku harus menghargai mereka. Tapi... yah, begitu lah.

Semalam terjadi lagi.

Belakangan ini memang ada beberapa orang di sekitar rumah yang cenderung mendekatiku. Salah satunya dia. Dia di sini adalah, dia yang akan menjadi issue utama di postingan ini. Pertama kali mengenalnya saat tengah malam aku keluar rumah, untuk cari makanan, minimal indomie. Iya, waktu itu aku kena kasus kelaparan tengah malam, dan ternyata stok indomie di rumah udah habis. Mengingat waktu itu sudah jam 11-an malam kalau nggak salah, aku nekat saja cari makan keluar. Tapi ya nggak nemuin apa-apa... (ya iya lahhh --")

Aku mampir ke warung 24 jam yang tidak jauh dari rumah. Bukan warung sih, tapi itu semacam warnet, cuma ada jual makanan juga. Aku lihat di sana ada satu lemari berisi indomie dan telur. Kupikir bisa dibeli per bungkus, ternyata nggak.. harus makan di sana. Mana mahal lagi --". Makan Indomie goreng pakai nasi aja 8000, brooo! 

Ngapain makan di situ, kemahalan... Dengan niat 'ah besok aja deh beli indomie. Laparnya ditahan aja, dibawa tidur. Atau nggak bikin nasi goreng kepepet aja', aku keluar dari warung itu. Lha, ada cowok yang daritadi nongkrong di atas motor di parkiran, ternyata ngelihatin interaksiku dengan si pemilik warnet. Aku sadar sih daritadi diperhatikan oleh dia, tapi ya namanya aja aku, nggak pernah ambil pusing. Nggak kenal gini. 

Dia senyum nyapa aku, pas aku lewat. Ya aku balas senyum aja. Trus dia nunjuk ke arah lurus sambil bilang, "Di sana ada yang jual indomi. Warungnya buka 24 jam."

Aku mengangguk, sambil senyum kikuk. "Oh iya, makasih.." Dalam hati sih, udah nggak ada niat mau beli sama sekali. Udah mau pulang, mau bobok aja. Eh dia nya berdiri dari motor, dan nawarin mengantarakan aku.

 "Yuk.."

Walau bengong, nggak tahu kenapa nih kaki nurut aja ngikutin langkah dia. Haddeh (--" ).

Dia senyum lagi. "Nggak apa-apa ya jalan kaki aja, nggak pakai motor."

"Iya, nggak apa-apa, kok." Aku senyum aja, dengan banyak pemikiran di kepala. Aku masih bingung, sebenarnya kenapa juga tadi aku mau-mau aja digiring sama dia...hhhh...

Kita akhirnya jalan dampingan, dan ngobrol. Tepatnya sih, dia nanya, aku jawab. Orangnya ramah sih, baik, lembut... Banyak nanya juga -.-

Singkat kata, begitu dah sampai warung yg dimaksud, aku beli deh 20 bungkus Indomie. Niatnya sih setelah itu mau ngucapin makasih, terus pamit pulang. Eh, dianya malah bantu ngebawain tas belanjaku -.- Mau nolak halus gimana juga udah nggak bisa. Ya udah... kita pulang. Maksudnya, aku pulang ke rumah, dia ngantarin sambil bawa belanjaanku. Sepanjang jalan ya ngobrol lagi. Dia tanya-tanya, aku jawab..

Sejak itu, tiap aku keluar rumah jam segitu pastiii ada dia nyamperin ,hiks.. Akunya yang awalnya senang karena dia baik, ramah, dlll jadinya risih... karena semakin ke sini makin kelihatan pedekate nya. Dan aku secara otomatis menjaga jarak (kebiasaan). Mulai yang kalau ketemu dia buru-buru pamit dengan berbagai alasan, pokoknya terkesan menghindar. Nggak enak sih iya.. tapi mau gimana....

Aku nggak suka sama dia, nggak ada perasaan apa-apa..

Maunya sih tetap berteman... tapi gimana, kalau aku makin baik, yang ada kayak ngasih harapan. Dia mikirnya, aku ngasih kesempatan buat dia mengenalkan dirinya ke aku lebih jauh. Kalau saja tadinya dia bersikap 'biasa' aja ke aku, aku pastinya bakal senang hati bersikap biasa aja ke dia. Tapi ini? Apa kah KEBETULAN setiap aku belanja di warung langgananku, dia nongol? Iya, kalau dia juga belanja di warung itu sih bisa aja kebetulan. Lha ini nggak, dia sama sekali nggak belanja apa-apa, cuma ngajak aku ngobrol 'ramah', .... tetap saja rasanya 'aneh' -_- dan aku nggak suka. Karena itu sudah jelas berarti dia memang sengaja hanya mau mau bertemu aku dan ngobrol..

Intinya sih, aku nggak terlalu suka kalau dideketin sampai segitunya. Kesannya kayak diteror tau nggak, dimana-mana ketemu dia. Jadi nggak bebas aja rasanya mau kemana-mana. Memang, dia nggak pernah melakukan hal aneh. Malah dia itu baik. Tapi aku nggak nyaman dengan kondisi seperti itu.

Puncaknya kemarin, seperti biasa saat aku pulang ke rumah, dia nya 'kebetulan' ada di dekat rumah ku, langsung nyamperin. Aku buru-buru pamit, "duluan." Dan langsung masuk ke rumah. Jahat? Mungkin... tapi aku nggak bermaksud buruk juga.

Dan tadi, saat aku ke Alfamart untuk beli sabun dan perlengkapan lainnya, lagi-lagi pas pulang di jalan ada dia. Untungnya lagi bersebrangan, dia di ujung, aku diujung. Saat dia manggil-manggil namaku, aku terus aja jalan kayak orang budeg dan muka datar. Jahat?

Hmm... apapun itu pandangannya, yang jelas aku nggak pernah maksud buruk. Sorry.

Dan lagi, aku sudah memperingatinya kan dari awal... please, stay away from me.. keep your distance, karena aku bagaimanapun nggak akan pernah tertarik untuk menjalin hubungan lebih dari sekadar teman.


 
Miss's WORLD! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template